Bismillaahirrahmaanirrahiim...
البسملة بخط يد الشيخ رحمه الله

Senin, 31 Mei 2010

Adab Seorang Muslim Menggunakan Jawwal (Handphone) - Bagian 1

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Wa ba'd,
Tidak diragukan, keberadaan Jawwal/HP merupakan salah satu di antara sekian banyak nikmat Allah. Maka agar nikmat tersebut bisa tetap terjaga dan benar-benar menjadi karunia bagi kita perlu kita mensyukuri nikmat tersebut. Di antara bentuk syukur adalah menggunakan nikmat tersebut pada tempatnya dan menjadikannya sebagai sarana yang bisa membantu untuk kita menjalankan ketaatan kepada Allah.

*******
Ini adalah risalah yang ditulis oleh Al-Akh Abu Ibrahim ‘Abdullah bin Ahmad bin Muqbil hafizhahullah, dengan mendapat taqrizh (pujian) dari Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi Al-‘Abdali hafizhahullah. Risalah ini berisi tentang pembahasan 24 pedoman dan bimbingan syar’i dalam menggunakan Jawwal/ (HP). Saya mencukupkan untuk langsung menyebutkan pedoman-pedoman tersebut saja tanpa menyebutkan pujian Asy-Syaikh Al-Wushabi dan muqaddimah penulis.
*****
Kami meringkas risalah tersebut (Sumber : www.salafy.or.id) untuk antum semua sebagaimana berikut :


1. Bimbingan Pertama : Jagalah Selalu Ucapkan Salam yang Islami

Sebagian manusia telah terbiasa ketika membuka percakapan dalam telepon (salam pembuka) dengan kata ‘Hallo‘. Asal kata ini adalah dari bahasa Inggris yang maknanya adalah ‘selamat datang‘, sehingga dari sini mereka telah terjatuh kepada sikap taqlid kepada dunia Barat.

Dan sebagian yang lain menjadikan salam pembuka di antara mereka dalam bentuk celaan, caci makian, dan saling melaknat, mereka tidaklah menempuh kecuali dengan kebiasaan seperti ini. Kemudian jika telah selesai dari percakapannya ditutup dengan kalimat ‘selamat jalan‘ atau ‘bye bye‘.

Ini semua merupakan bentuk penyelisihian terhadap tuntunan yang diajarkan oleh Islam, yaitu mengucapkan salam dan senantiasa menjaganya, baik ketika memulai (berjumpa) maupun mengakhirinya (berpisah).

وعن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه ،قال :قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : حق المسلم على المسلم ست”قيل ما هن يارسول الله؟قال:”إذا لقيه فسلم عليه،وإذا دعاك فأجبه،وإذا استنصحك فانصح له ،وإذا عطس فحمد الله،فشمته إذا مرض ؛فعده وغذا مات؛فاتبعه”

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Hak seorang muslim terhadap muslim yang lainny ada enam. Ditanyakan kepada beliau: apa saja itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Jika berjumpa ucapkan salam kepadanya, jika dia mengundangmu penuhilah undangannya, jika dia meminta nasehat kepdamu nasehatilah dia, jika dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah maka ucapkan yarhamukallah, jika dia sakit jenguklah dia, jika dia meninggal maka iringilah jenazahnya.(HR. Al-Bukhari 1183, Muslim 2162, dan ini adalah lafazh Al-Imam Muslim)

2. Bimbingan Kedua : Yang Memulai Salam, Siapakah yang memulai salam? Si penelpon ataukah yang ditelpon?

Yang memulai salam hendaknya si penelepon, karena dia itu seperti orang yang mengetuk pintu rumah orang lain dan meminta izin untuk masuk. Sehingga dia harus memulai pembicaraannya dengan ucapan: ‘Assalamu ‘alaikum‘ atau ‘Assalamu ‘alaikum warahmatullah‘ atau Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh‘.

Maka yang ditelepon pun hendaknya menjawab dengan mengucapkan: ‘Wa’alaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh‘ atau dengan jawaban yang sama persis diucapkan oleh yang memberi salam.

3. Bimbingan Ketiga : Memperhatikan Waktu

Di antara penyebab tersia-siakannya waktu yang ditimbulkan dari fasilitas ini (HP) adalah apa yang dinamakan dengan ‘permainan’ / ‘game‘. Sebagian orang banyak tersibukkan waktunya untuk permainan ini, lalai dari berdzikir kepada Allah dan tenggelam dalam permainan setan tersebut. Maka sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk memperhatikan waktunya dan menyibukkan hidupnya di dunia yang hanya beberapa menit ini dengan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma (bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda):

نعمتان مغبون فيها كثير من الناس :الصحة والفراغ

Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia melalaikannya: (1) kesehatan, dan (2) waktu luang. (HR. Al-Bukhari XI/196)

4. Bimbingan Keempat : Menjaga Lisan

Perkataan-perkataan yang engkau ucapkan itu akan dihitung dan terekam, maka ber
hati-hatilah engkau dari ketergelinciran ke dalam perbuatan ghibah terhadap seorang muslim, berdusta atas nama dia, ataupun berbuat namimah (adu domba). Berhati-hatilah dari mencela, mencaci, serta ucapan yang mengandung kefasikan dan dosa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau diam. (HR. Al-Bukhari XI/265, Muslim 47).

5. Bimbingan Kelima : Hemat (tidak menghamburkan) Harta (Pulsa)

Ketika seorang muslim bermudah-mudahan membeli pulsa dan untuk ngobrol ini itu yang tidak bermanfaat, maka ini adalah termasuk sikap berlebihan (pemborosan), adapun jika menggunakannya untuk perkara yang bermudharat, maka ini termasuk bentuk perbuatan tabdzir yang Allah larang dalam Al-Qur’an. Allah berfirman

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا * إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros, sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. (Al Isra’: 26-27)

6. Bimbingan Keenam : Berhati-hati dari Nyanyian

Kebanyakan orang terjatuh kepada sikap bermudah-mudahan (menganggap enteng) untuk mendengarkan nyanyian, walaupun telah jelas dan gamblang dalil-dalil yang menunjukkan keharamannya. Sungguh ini adalah gejala yang tidak baik, wal ‘iyadzubillah.

Sebagaimana yang dikatakan Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna.

Beliau berkata : “(perkataan yang tidak berguna) itu adalah -demi Allah- nyanyian (lagu-lagu).

Demikian pula yang dikatakan shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Jabir, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Mak-hul, ‘Umar bin Syu’aib, dan ‘Ali bin Badzimah.

Kamis, 13 Mei 2010

Tanya Jawab Seputar Sholat bagi Karyawan


1. Shalat di Masjid

Tanya : Apakah boleh bagi karyawan melakukan sholat di kantornya sementara di sampingnya ada sebuah masjid, ataukah harus sholat di masjid ?

Jawab : Sunnah qauliyyah dan fi'liyyah tentang shalat jamaah di masjid telah ada sejak Rasulullah shalallah 'alaihi wa sallam. Dan beliau membakar rumah mereka yang tidak melakukan shalat berjamaah di masjid, yang demikian itu dilakukan juga oleh para shahabat dan khalifahnya. Dalam sebuah hadits dinyatakan :
"Siapa yang mendengar adzan dan tidak mendatangi masjid maka ia tidak memiliki pahala shalat kecuali karena udzur syar'i."

Dalam hadits lain disebutkan :
"Seorang buta berkata kepada Rasulullah, " Wahai Rasulullah, saya tidak punya orang yang dapat menuntunku ergi ke masjid, apakah ada keringanan bagiku untuk shalat di rumah? Rasulullah menjawab : "Apakah engkau dapat mendengar adzan?" Dia menjawab : Ya. Nabi bersabda : "Datanglah ke masjid." Dalam riwayat lain, " Anda tidak punya keringanan untuk itu."

Dengan demikian jelaslah bahwa para karyawan tetap diwajibkan melakukan shalat dhuhur berjamaah di masjid yang terdekat, menurut sunnah dalam rangka menunaikan kewajiban juga agar tidak menyerupai orang munafik. (al Lajnah ad Daimah Kerajaan Saudi Arabia).

2. Sholat di Kantor
Tanya : Di sebuah perkantoran negara terdapat tempat untuk sholat, dan kebanyaka karyawan shalat di sana. Akan tetapi ada sebagian wanita yang sholat terpisah dengan berjama'ah. Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?

Jawab : Pertama saya bertanya apakah lembaga itu mungkin mengizinkan para karyawannyua untuk sholat di masjid terdekat yang ada di sekitar kantor? Apakah memungkinkan para karyawa sholat di masjid sebagiaman seharusnya tanpa melalaikan pekerjaannya? Karena pendapat paling kuat dari pendapat dari para ulama adalah wajibnya shalat berjamaah di masjid sekalipun memang sebagian ulama ada yang membolehkan shalat berjamaah di rumah atau kantor. Apabila tidak memungkinkan karena jauhmisalnya, atau jika diijinkan keluar dikhawatirkan para karyawan berleha-leha atau bisa menyebabkan tertundanya beberapa pekerjaan.
Dalam kondisi seperti ini, shalat di kantor di benarkan dan tidak ada salahnya. Karena menjaga tugas kantor adalah kewajibanjuga dan tidak boleh diabaikan. Tapi saya katakan, kalau memang memungkinkan cobalah melakukan shalat di kantor tersebut secara berjamaah atau dengan satu imam. Jika tidak bisa, maka shalatlah di lantai masing-masing tapi tetap secara berjamaah. (Syaikh Al 'Utsaimin, al Bab al Maftuh 19/28)


3. Sholat ada Waktunya
Tanya : Saya adalah seorang imigran yang bekerja mulai jam tujuh sore hingga jam tujuh pagi, bolehkah saya menjamak sholat?

Jawab : Tidak dibolehkan menjamak taqdim terhadap sholat sebelum masuk waktunya sekalipun ada tugas atau karena udzur. dan tidak boleh pula melakukan jamak ta'khir setelah habis waktunya tanpa udzur apapun. Dan sebuah aktivitas rutin tidak dapat dijadikan udzur syariat untuk melakukan jamak ta'khir atau alasan dibolehkannya melakukan shalat jamak.
Jika mungkin lakukanlah sholat di tempat kerja atau menutup toko untuk sementara wakt dan pergi ke mesjid. Para ulama telah menentukan syarat-syarat tertentu diperbolehkannya shalat jamak
misalnya karena safar, hujan, sakit, dan seterusnya. (Ibnu Jibrin, Fatawa Islamiyyah 1/378)

Wasiat Salaf untuk Pengusaha dan Karyawan

Bismillah..

Ulama salaf adalah panutan yang tiada bandingnya dalam berbagai hal. Mereka ahli dalam hal keimanan, ketakwaan, keilmuan, pegamalan, jihad, muamalah, dan lain sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang selalu pantas di jadikan qudwah dalam sgala bidang. Termasuk pula dalam hal pekerjaan..

Mereka bertakwa kepada Alah namun tidak melupakan sisi keduniawian. Mereka senantiasa menjadiakan dunia itu sebagai washilah untuk mewujudkan tegaknya keimanan mereka.
Berikut adalah tulisan ringkas seputar dunia kerja dan perekonomian yang disarikan dari tulisan dan fatwa para ulama salaf dengan harapan bisa menjadi bimbingan bagi kaum muslimin dalam meniti karier mereka...
*Selamat Menyimak*

1. Seruan untuk Bekerja dan Berusaha

"Ketahuilah sesungguhnya Allah itu baik, dan Dia tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Jika saja tubuh ini tumbuh dari barang yang haram maka neraka lebih pantas baginya" (HR THabrany dari Abu Bakar dari Rasulullah shalallah 'alaihi wa sallam, Shahiul Jami').

Salman al Farisy pernah berkata : Apabila pintu rezeki telah terbuka maka seketika jiwa merasa tenang. Dan seutama-utamanya dinar (rezeki) adalah yang dinafkahkan untuk keluarga dan anak istri yang menjadi tanggungannya"


Allah ta'ala telah berfirman kepada tiap hambanya :
"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekiNya. Dan hanya kepadaNyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." QS Al Mulk : 15.

Dalam ayat lain Allah ta'ala berfirman :
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah. Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung." QS Al Jumu'ah : 15.
"Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakan;ah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain)." QS Al Insyirah : 7.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa jika ia melalaikan orang yang menjadi tanggung jawabnya." HR Ahmad, Shohihul Jami' 4481.


2. Larangan Meminta dan Mengemis

Sesungguhnya setiap pekerjaan yang halal sekalipun dianggap rendah oleh sebagian orang itu jauh lebih baik dibanding meminta-minta. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al Imam Bukhary rahimahullah menyatakan :
"Jika seorang laki-laki mengambil tali ikatnya kemudian pergi ke gunung lalu membawa seikat kayu bakar di punggungnya lalu Allah mencukupi dan menjaganya (dari mengemis) itu lebih baik dari pada meminta kepada orang entah diberi atau tidak."

Dalam hadits lain yang diriwayatkan al Imaman Bukhory dan Muslim rahimahumallah : "Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah."

Sungguh agama Islam adalah agama yang mulia dan tidaklah mengajarkan sesuatu kecuali akhlaq yang mulia. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Barang siapa yang membuka pintu bagi dirinya untuk meminta-minta, niscaya Allah akan membukakan baginya 70 pintu kefakiran." (HR Turmudzi).

Perbuatan meminta-minta ini tidak hanya akan menjatuhkan harga dirinya di hadapan manusia tetapi juga di hadapan Allah 'azza wa jalla Rabbul 'alamin. Allah Dzat yang maha Kaya tidak menyukai hamba yang suka meminta-minta kepada orang lain.
"Meminta-minta akan selalu ada pada seorang hamba sampai dia bertemu Allah sementara di wajahnya tidak ada sepotong daging pun"

Jika engkau memang tidak benar-benar fakir ataupun dalam kondisi darurat seperti harus membayar diyat (denda) pembunuhan misalnya, maka janganlah engkau meminta bantuan materi dari orang lain. Bekerjalah, karena itu lebih baik dan harga diri jauh lebih penting.
Allah ta'ala berfirman : "Oranglain yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain." QS Al Baqarah : 273.
Powered By Blogger