Bismillaahirrahmaanirrahiim...
البسملة بخط يد الشيخ رحمه الله

Sabtu, 31 Januari 2015

BANTAHAN ATAS SYUBHAT YANG MENGATAKAN : "DI KERAJAAN SAUDI ARABIA TERDAPAT RAFIDHAH, MENGAPA MEREKA (PARA ULAMA KSA) TIDAK MEMFATWAKAN UNTUK MEMERANGINYA SEBAGAIMANA MEREKA MEMFATWAKAN UNTUK MEMERANGI RAFIDHAH YANG ADA DI YAMAN ?

Oleh Fadhilatus Syaikh yang mendalam ilmunya lagi bijak 'Ubaid bin Abdillah bin Sulaiman Al Jabiry hafzhahullah

---------------------------------
-Transkrip-

Pertanyaan :

Ada yang berkata :

"Di Kerajaan Saudi Arabia terdapat Rafidhah, mengapa mereka (Para ulama KSA) tidak memfatwakan untuk memeranginya sebagaimana mereka memfatwakan untuk memerangi Rafidhah yang ada di Yaman ?"

Dijawab oleh Syaikh 'Ubaid hafizhahullah :

✅Jawaban perkataan ini dari 2 (dua) sisi :

1⃣. Bahwa Rafidhah di Saudi Arabia mereka tidak mempunyai kekuatan bahkan mereka dikuasai (tidak bisa berbuat apa-apa,-penj).
Adapun yang sebagian mereka lakukan dari menganggu keamanan boleh dikata sangat jarang terjadi, maka itu tidak dianggap.

Dan aku meyakini (pada agama Allah) bahwasanya Ar Rofidhah di Saudi mereka itu halal darah, harta dan kehormatan mereka bagi kami, AKAN TETAPI kami menjaga/menghormati perlindungan pemimpin-pemimpin kami (terhadap Rafidhah) yang dimulai oleh Al Imam Muhammad bin Su'ud rahimahullah sampai zaman ini pada periode Raja Salman -waffaqallah- dan juga pada masa sebelum beliau mereka (Rafidhah) berada (dibawah) perlindungan pemimpin kami.

Oleh karena itu kami tidak membenarkan/membolehkan kepada siapa pun untuk melampaui batas kepada mereka baik pribadinya maupun pada hartanya.

Akan tetapi kami mencerca mereka (Rafidhah), menyorakinya dan meneriakinya pada wajahnya, iya, dan kami mengingkari amalannya dan kami akan mencelanya, ini yang pertama.

2⃣. Saya mengetahui siapa yang mengatakan ini, perkiraanku bahwa dia Al Wushoby (Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobiy Al Yamaniy,-penj)

✋Iya, maka Rafidhah yang ada di Yaman tidak seperti Rafidhah yang ada di Saudi Arabia (KSA).

Rafidhah yang ada di Yaman masalahnya panjang dan meluas.

Mana Yaman Utara sekarang ?!? Telah hilang.

Baru-baru ini Presidennya melarikan diri dan kami katakan lebih baik beliau meloloskan diri karena mereka (Rafidhah) telah mengambil alih kekuasaan dan menempati Istana Kepresidenan. Iya.

✌Maka (terdapat) perbedaan yang sangat jauh akan kedua perkara ini.-Barakallahu fikum-

Penanya:

(Presiden) masih ada di San'a wahai Syaikh kami, akan tetapi sebentar lagi beliau akan mengajukan pengunduran dirinya. Iya.

Syaikh Ubaid :

❓Yang jelas, bahwa beliau melarikan diri yaitu dari apa ?!?

▪Penanya : dari Hukum (hukuman)

✔Syaikh : Pembebasan hukum, meninggalkan hukuman dan melarikan diri. Sama saja apakah di San'a bersembunyi ataukah sesuatu yang lain (terjadi).

⛔Penanya : " Situasinya buruk, iya."

⚠Syaikh : Iya, situasinya buruk, bahkan sekarang sampai di Ma'rib khawatir akan mereka (Rafidhah), apalagi jika mereka telah membentuk pemerintahan militer maka (kekuasaan) akan terbang ke tangan mereka.

-----------------------------------

Ditranskrip dan disusun oleh saudara kalian :

Muhammad bin Abdul Aziz Al Adeny
Admin Umum untuk Grup

Pada malam Kamis 9 Rabi'uts Tsani 1436 H / 29 Januari 2015 M

-----------------------
al-Multaqa as-Salafy al-Kuwaity
-> yang dikhususkan untuk orang-orang Kuwait

dan

al-Multaqa as-Salafy al-Yamaniy
-> yang dikhususkan untuk orang-orang Yaman

dan

Majmu'at Ahlil Atsar

Untuk bergabung via WhatsApp:
00967736296299

✖ TIDAK DIPERBOLEHKAN UNTUK MENGUBAH ✖

Tujuan kami adalah menyampaikan dakwah kepada Allah 'Azza wa Jalla ini dengan cara merujuk kepada al-Kitab dan Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah.

Salam Hormat
Multaqiyaat at-Ta'awunis Salafiy al-I'lamiy

Admin Utama:
Fadhilatus Syaikh Dr. Muhammad bin al-'Allamah Rabi' al-Madkhaly hafizhahullah Ta'ala

Grup-grup yang resmi di Mahad as-Salafy al-'Alamiy at-Ta'awuny

[http://t.co/8dMjNllNdH ]

جـــديـــد

⛔ الرد على شبهة من قال
{ في المملكة العربية السُعودية
روافض لماذا لايفتون بقتالهم كما أفتوا
  بقتال الروافض في اليمن }

لفضيلة الشيخ العلامة الوقُـور/
عبيد بن عبدالله بن سليمان الجابري
   - حفظـهُ الـلـه تعالـى -

✏ التفـريــغ 

الــســائــــل :-
قال قائلٌ :
( في المملكة العربية السعودية
روافض لماذا لايفتون بقتالهم كما
       أفتوا في اليمن ) ؟؟؟

 إجابـة فضيلـة الشيـخ :-

هذا الجواب من وجهين :-

أولاً :-
أن الروافض في السعودية ليست
  لهم  ✖شـوكـة
✔بل مغلوبون والحمد لله

وماحصل من بعضهم من إختراق للأمن
هذا يُعد شاذاً ونادراً ولا حكم له .

وأنا أدين الله بأن الرافضة في السعودية
أنهم حلال الدم والمال لنا والعرض ،
لكن نرعى فيهم ماذا ذمة إمامنا
    بـــدءً مــن الإمـــــام
محمد بن سعود - رحمـهُ الـلـه -
إلى اليوم في عهـد الملــك
سلمـان - وفقـهُ الـلـه - وعهد من قبله
لهم ذمة إمامنا ، ولهذا نحن لانسوغ
لأحدٍ أن يتعد عليهم في نفس أو مال
بل نثرب عليه ، ونصيح به ، ونصرخ في
وجهه ، نعم ، وننكر عمله ونستنكره
              هـذا أولاً .

الــثــانــي :-
أنا أعرف هذه صدرة مِن مَن أظنه من
{ الوصابي } نعم ،  فالرافضة في اليمن
  ليسوا كالرافضة في السعودية
الرافضة في اليمن أمرهم مستطال
مستشرى ، أين اليمن الشمالي الآن؟
ذهب راح ، أخيراً الرئيس نجا بنفسه
هرب ، ونقول أحسن إذا هرب لأنه
وصل بهم الأمر إلى إحتلال القصر
           الرئاسي نعم .
فشتان بين الأمرين - بارك الله فيكم -

الــســائــــل :-
ومازال في صنعاء شيخنا لكن قدم
         استقالتـه نعــم.

الـعلامـة عبيـد الجابـري :-
المهم أنه هرب يعني من ماذا؟

الــســائــــل :-
  اي من الحكم .

الـعلامـة عبيـد الجابـري :-
الحكم خلاص ترك الحكم وهرب ، سواءً
كان في صنعاء مختفي أو هذا شئ آخر.

الــســائــــل :-
   الأوضاع سيئة نعم .

الـعلامـة عبيـد الجابـري :-
نعم الأوضاع سيئة ، والآن حتى يعني
مأرب يخشى عليها خصوصاً إذا شكلوا
حكماً عسكرياً سيكون الطيران بأيديهم .

 للإستـمــاع والتحميــل :-
[https://www.dropbox.com/s/0n2crjv1or60gs7/AUD-20150128-WA0015.mp3?dl=0]

➖➖➖➖

✏ فـرغـهُ ونسقـه أخوكـم :-
محمد بن عبدالعزيز العدنـي
   فـي ليـلـة الـخميـس
9/ربيع الثاني/1436هـ
    29/5/2015مـ
المُشـرف العـام لمجموعـات

الملتقى السلفي الكويتي
⇦ الـخــآص للـكويتييـن ⇨
                    و
الملتقى السلفي اليمني
⇦ الـخــآص لليـمـنـيـيـن ⇨
                  و
مجموعات أهل الأثر

للإنضمـام عبر الوآتسـاب:-
(( 00967736296299 ))
✖ لايُسمـح بالتغييـر ✖

هدفنا الدعوة إلى الله عزَّوجل
   بالرجوع إلى الكتاب و السنة
        بفهم سلف الأمة...

مـــع تــحــيـــات :
"ملتقيات التعاون السلفي الإعلامي

الــمُــشـرف الــعــام :
فضيلة الشيخ الدكتور/
محمد بن العلامة ربيع المدخلي
   - حفظه الله تعالى -

المجموعات المعتمدة في
المعهد السلفي العلمي التعاوني
[ http://t.co/8dMjNllNdH ]

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

أصحاب السنة
⭐⭐
Ashhaabus Sunnah

########
Sumber: WA Al Ukhuwah (Semarang, posted by ustadz abu zulfa anas, 30 Januari 2015)

Selasa, 13 Januari 2015

SEKALI LAGI TENTANG CADAR BUTTERFLY

P▶ Ralat jawaban tentang cadar Butterfly

✏ al-Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahullah
----------------

Pada rubik tanya jawab ringkas edisi sebelumnya pernah dibahas tentang cadar butterfly, disebutkan bahwa hukumnya adalah boleh karena tertutup. Pada kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan:

1⃣ Penjelasan tersebut berdasarkan maklumat yang sampai kepada saya.
2⃣ Setelah masuk maklumat lain tentang cadar model tersebut, maka saya menyatakan:
a.  Cadar tersebut sudah keluar dari hakikat hijab syar'i bagi wanita yang bertujuan untuk sitr (menutup aurat dan menutup keindahan mereka) dengan alasan berikut :
▪ Cadar tersebut lebih banyak sisi tazayyun, yakni digunakan untuk keindahan. padahal di antara syarat hijab syar'i adalah bukan sebagai keindahan pada zatnya, seperti yang disebutkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Jilbab Mar'ah Muslimah.
▪Cadar tersebut memiliki banyak variasi yang semakin menunjukkannya sebagai perhiasan keindahan.
▪ Mayoritas penggunanya adalah gadis muda, dan umumnya mereka gunakan karena cadar model tersebut dianggap modis
▪ Orang yang memandang muslimah bercadar butterfly akan mempesona dan umumnya tergoda.

b.  Dengan ini saya :
✅ RUJUK dari keterangan sebelumnya, dan
✅ menegaskan bahwa para muslimah TIDAK BOLEH mengenakan cadar butterfly untuk keluar rumah atau di hadapan yang bukan mahram dengan  alasan di atas.

Semoga Allah Ta'ala senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.

dari Majalah asy-Syari'ah edisi 105 vol IX/1436/2014, hal.  31

•••••••••••••
WhatsApp Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sumber: Grup WhatsApp Al Ukhuwah (Semarang, 13 Januari 2015, posted by Nizar)

AKHLAK PARA ULAMA BESAR


أخلاق الآكابر

☀ﻗﺎﻝ ﻳﺤﻴﻲ ﺑﻦ ﻣﻌﻴﻦ:

✔ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﺜﻞ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ، ﺻﺤﺒﻨﺎﻩ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﻣﺎ ﺍﻓﺘﺨﺮ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻭ ﺍﻟﺨﻴﺮ.

✔ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺣمه ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ:
ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ:
ﺭﺃﻳﻨﺎ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﺣﻤﺪ ﻧﺰﻝ ﺇﻟﻰ ﺳﻮﻕ ﺑﻐﺪﺍﺩ، ﻓﺎﺷﺘﺮﻯ ﺣﺰﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻄﺐ، ﻭﺟﻌﻠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﻔﻪ، ﻓﻠﻤﺎ ﻋﺮﻓﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﺗﺮﻙ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺘﺎﺟﺮ ﻣﺘﺎﺟﺮﻫﻢ، ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻛﺎﻛﻴﻦ ﺩﻛﺎﻛﻴﻨﻬﻢ، ﻭﺗﻮﻗﻒ ﺍﻟﻤﺎﺭﺓ ﻓﻲ ﻃﺮﻗﻬﻢ، ﻳﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ: ﻧﺤﻤﻞ ﻋﻨﻚ ﺍﻟﺤﻄﺐ، ﻓﻬﺰ ﻳﺪﻩ، ﻭﺍﺣﻤﺮ ﻭﺟﻬﻪ ، ﻭﺩﻣﻌﺖ ﻋﻴﻨﺎﻩ ﻭﻗﺎﻝ:
ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ، ﻟﻮﻻ ﺳﺘﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻻﻓﺘﻀﺤﻨﺎ.

☑ ﺃﺗﻰ ﺭﺟﻞ ﻟﻴﻤﺪﺡ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﺣﻤﺪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﺣﻤﺪ:
ﺃﺷﻬﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻲ ﺃﻣﻘﺘﻚ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﻋﻠﻤﺖ ﻣﺎ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻭﺍﻟﺨﻄﺎﻳﺎ ﻟﺤﺜﻮﺕ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻲ ﺑﺎﻟﺘﺮﺍﺏ.

ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ :
ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﺖ ﺍﻟﺸﻬﺮﺓ، ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻓﻲ ﺷﻌﺐ ﻣﻦ ﺷﻌﺎﺏ ﻣﻜﺔ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﻨﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ .

ﺍﻟﺤﻠﻴﺔ ‏( 9/181 ‏) ﻷﺑﻲ ﻧﻌﻴﻢ

***

☀Berkata Yahya bin Ma'in:

✔Aku belum pernah melihat orang yang seperti Ahmad bin Hanbal, kami bergaul dengannya selama 50 tahun lamanya namun beliau belum pernah menyombongkan diri di atas kami sedikitpun dari apa yang ada pada dirinya dari kemaslahatan dan kebaikan.

✔Dan beliau rohimahulloh sering sekali mengatakan:
'Kami adalah orang-orang miskin.'

Sekumpulan hafizh mengatakan:
Kami pernah melihat imam Ahmad singgah di sebuah pasar di kota Baghdad, kemudian beliau membeli satu ikat kayu bakar, dan beliau pikul kayu-kayu tersebut di atas punggungnya, dan tatkala orang-orang mengetahuinya, maka para pedagang meninggalkan barang dagangan mereka, dan para pemilik kios pun meninggalkan kios-kios mereka, dan orang yang melintas pun turut berhenti di jalan-jalan mereka, mereka menyalami beliau, dan mengatakan: 'Biar kami yang membawa kayu bakar Anda, maka beliaupun mengisyaratkan tangannya, dan merahlah wajahnya, dan berlinang kedua air matanya seraya berkata:
'Kami adalah orang-orang miskin, kalaulah tidak ditutupi oleh Alloh tentulah akan terbuka kedok kami.

☑Datang seseorang menemui imam Ahmad untuk memberi pujian kepadanya, maka beliau berkata kepadanya:
'Aku bersaksi kepada Alloh bahwa aku sungguh murka kepadamu pada ucapanmu ini, demi Alloh kalau sekiranya engkau tahu apa yang ada di sisiku dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan niscaya engkau akan menaburkan tanah di atas kepalaku.'

Dan beliau berkata:

'Duhai kiranya aku tidaklah dikenal, duhai kiranya di satu lembah dari lembah-lembah kota Mekkah tidak ada manusia yang mengenaliku.

Al-Hilyah (9/181) karya Abu Nu'aim.

Faedah dari Al-Ustadz Ahmad Khodim ** WA Minhajul Anbiya 1

Alih Bahasa:
Muhammad Sholehuddin Abu 'Abduh

____
✪ WhatsApp Syarhus Sunnah
✪ منتدى شرح السنة

●●●●●
Sumber:
Grup WhatsApp Al Ukhuwah ( Semarang, 13 Januari 2015, posted by Abu Faruq)

Jumat, 09 Januari 2015

HUKUM JUAL BELI UANG KUNO

Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum jual beli uang kuno.

Jawaban beliau,

ليس فيه بأس ؛ لأن العملة القديمة أصبحت غير نقد ، فإذا كان مثلاً عنده من فئة الريال الأولى الحمراء أو من فئة خمسة أو عشرة التي بطل التعامل بها وأراد أن يبيع ذات العشرة بمائة فلا حرج ؛ لكونها أصبحت سلعة ليست بنقد ، فلا حرج

Tidak masalah. Karena mata uang kuno, sudah bukan lagi alat tukar. Misalnya ada orang yang memiliki beberapa lembar mata uang real dulu, yang warnanya merah, atau uang 5 atau 10 real yang tidak lagi diberlakukan untuk alat tukar, kemudian dia hendak menjual 10 real itu dengan 100 real, hukumnya boleh. Karena uang kuno semacam ini sudah menjadi barang dagangan, dan bukan mata uang, sehingga tidak masalah. (Liqa’at Bab Maftuh, 233/19).

Sumber:
Grup WhatsApp Al Ukhuwah (Semarang, 8 Januari 2015, posted by akh Salim hafidhohullah)

Rabu, 07 Januari 2015

Air Sisa Minuman Bighal, Keledai, Binatang Buas dan Burung


السؤال الثالث عشر من الفتوى رقم 8052

س13: ما الحكم الراجح في سؤر البغل والحمار وسباع البهائم وجوارح الطير؟

جـ13: الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه. . وبعد:

الراجح طهارة سؤر البغل والحمار الأهلي وسباع البهائم كالذئب والنمر والأسد، وجوارح الطير كالصقر والحدأة،

وهذا هو الذي صححه أبو محمد بن قدامة رحمه الله في المغني وهو الموافق للأدلة الشرعية.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو ... نائب الرئيس ... الرئيس
عبد الله بن قعود ... عبد الرزاق عفيفي ... عبد العزيز بن عبد الله بن باز

http://shamela.ws/browse.php/book-8381/page-3841

Pertanyaan Kesebelas dari Fatwa Nomor8052

Pertanyaan 13:

Apakah hukum yang rajih (kuat) terkait dengan air sisa minuman bighal, keledai, binatang buas dan burung pemangsa?

Jawaban 13:

Segala puji hanyalah bagi Allah semata. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul-Nya, kerabat dan sahabat beliau. Amma ba'du:

Hukum yang rajih (kuat) terkait air sisa minuman bighal, keledai dan binatang buas seperti serigala, harimau dan singa, serta burung pemangsa seperti elang dan rajawali, adalah suci.

✅Dan inilah yang dinilai shahih oleh Abu Muhammad bin Qudamah rahimahullah dalam kitabnya Al-Mughni karena sesuai dengan dalil-dalil syar'i.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Al-Lajnah ad-Daimah Lilbuhutsil Ilmiyyah wal Ifta'

Ketua: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil: Asy-Syaikh Abdurrazzaq 'Afifi

Anggota: Asy-Syaikh Abdullah bin Qu'ud

●●●●●●
Sumber: Grup WhatsApp Al-Ukhuwwah, Semarang, 7 Januari 2015, by ustadz Anas hafidhohullah.

HUKUM SEPUTAR BUAH PALA

��ASAL PENGHARAMAN BUAH BIJI PALA��

��Tanya:
Bismillah.
Afwan Ustadz, ana mau tanya tentang kaidah dipakai dalam pengharoman Buah/Biji Pala. Apakah pengharaman Pala ini setara dengan pengharaman mutlak dzatnya seperti Babi/Darah/Bangkai ataukah pengharaman karena proses yang menjadikannya seperti khamr yang kita tahu kebanyakan zat asalnya adalah halal semisal anggur, ketan, dan beberapa jenis tumbuhan? Apakah mungkin dengan proses alami/buatan bisa menjadikan Pala Halal dimakan?

✔Jawab:
Asal pala memabukkan menurut penjelasan para ulama, jadi pengharamannya seperti diharamkannya tanaman ganja. Barakallahu fiik.

sumber: http://www.thalabilmusyari.web.id/2013/06/asal-pengharaman-buahbiji-pala.html

��������

��HUKUM MEMAKAN BUAH PALA��

��Tanya:
Bismillah, afwan Ustadz. Apakah ada perbedan zat buah pala di Arab dengan buah pala di Indonesia ? Karena adanya fatwa Ulama yang mengharomkan. Jazakumullahu khairon.
Abu Anis Samsiar - Balikpapan.

✔Jawab:
Buah pala dan bijinya sebaiknya dijauhi, baik yang dari Arab atau yang dari Indonesia, sebab para ulama telah memfatwakan haramnya, disebabkan ia termasuk jenis yang memabukkan. Wallahu A'lam.

��Tanya:
Yang untuk rawon namanya klewek, buahnya besar isi bijinya banyak, daging bijijya warna hitam jika kering, itu yang menjadikan rawon hitam. Buah pala lazim digunakan untuk bumbu dapur. Banyak menu masakan yang menggunakan biji pala. Banyak dijual bersama rempah. Daging buahnya biasa dibuat manisan. Manisan pala banyak dijual di swalayan. Apakah tidak ada perbedaan penggunaan pala banyak atau sedikitnya...? Ahsanallahu ilaikum ustadzana..

✔Jawab:

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :
ما أسكر كثيره فقليله حرام
"Apa yang banyak memabukkan, maka sedikitnya adalah haram."
(HR. Tirmidzi dari Jabir).

sumber: http://www.thalabilmusyari.web.id/2013/06/hukum-memakan-buah-pala.html

��������

��MENYINGKAPI MAKANAN YANG MENGANDUNG PALA��

��Tanya:
Assalamu'alaykum um, afwan ana tahu dari gruop tamam kalau biji pala itu haram. Saat masak bersama mertua tadi ana lihat mertua menggunakan pala untuk memasak sop. Ana coba beritahu kalau ulama memfatwakan haram. Tapi mertua tidak terima dengan alasan di Indonesia tidak ada yang gunakan pala untuk sesuatu yang memabukkan, beliau juga bilang gulainya orang arab memakai pala. Bagaimana ana harus menyikapi masakkannya?

✔Jawab:
Ya jangan dimakan, kalau jelas itu ada campuran palanya, jangan dimakan. Banyak dari kalangan para ulama menjelaskan bahwa pala ini ada unsur memabukkan. Maka meninggalkannya lebih baik.

Ada yang mengatakan bahwa pada bijinya itu lebih terasa memabukkannya. Justru pada bijinya. Karena dulu waktu kecil, makan buah pala, ini rasanya tidak pernah mabuk. Rasanya tidak pernah memabukkan. Namun para ulama menerangkan demikian, Wallahu Ta'ala A'lam.

Dan memang kebanyakan yang digunakan itu bijinya, dan saya dengar bahwa di Arab Saudi itu melarang untuk mengimpor biji pala. Karena mengandung zat yang memabukkan. Sehingga meninggalkannya lebih baik.

download audio ��  https://docs.google.com/file/d/0B2pKyas3e1SFOFBoUm9JMDkzdnM/preview

sumber: http://www.thalabilmusyari.web.id/2013/07/menyikapi-makanan-yang-mengandung-pala.html

��������

��HUKUM MEMGGUNAKAN PALA DALAM KADAR YANG TIDAK MEMABUKKAN��

��Tanya:
Afwan Ustadz, melanjutkan pengharoman pala setara dengan ganja. Jika terjadinya pencampuran sesuatu yang halal dengan yang harom, apakah memungkinkan hasilnya tetap halal, dimana % haromnya pada tingkat yang rendah tidak memabukkan? Seperti alkohol dalam obat batuk & pala dalam soto banjar. Dan juga bagaimana hukumnya orang yang mencampurnya tapi ilmu belum sampai kepadanya?
Barakallahu fiik.

✔Jawab:
Wajib bagi seorang muslim yang memuliakan agamanya agar menjauhi segala sesuatu yang bersifat syubhat, termasuk makanan-makanan yang diyakini bercampur dengan sesuatu yang haram.

Sumber:
Grup Whatsapp Al Ukhuwah Semarang, 7 Januari 2015

HUKUM BERJALAN DALAM KEADAAN SHALAT UNTUK MENCARI SUTROH

Fatwa Asy-Syaikh Ibnu Baz & Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahumallah.

✏ Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

Makmum ketika imam telah salam, maka ia menjadi munfarid/sendirian.  Maka dalam keadaan ini -sutroh imam adalah sutroh baginya (makmum) - tidak berlaku lagi, karena si imam saat ini bukan lagi imam, ia sudah berpindah dari posisinya sebagai imam.

Namun setelah itu jika makmum kembali berdiri meneruskan shalat, apakah disyari’atkan bagi makmum untuk mencari sutroh? Yang nampak bagiku, TIDAK DISYARIATKAN untuk mencari sutroh. Karena para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika mereka masbuk dan hendak menyelesaikan sisa shalatnya, mereka TIDAK LAGI MENCARI SUTROH. Lalu jika kita katakan bahwa sebaiknya mencari sutroh, atau bahkan wajib bagi yang berpendapat wajibnya sutroh, maka pada umumnya diperlukan melangkah dan gerakan yang tentunya tidak bisa kita bolehkan KECUALI DENGAN DALIL YANG TEGAS.
Maka yang nampak disini, kita katakan kepada makmum bahwa sutroh anda sudah berakhir dengan berakhirnya imam dan ANDA TIDAK PERLU MENCARI SUTROH. KARENA TIDAK ADA DALIL MENGENAI MENCARI SUTROH DI TENGAH-TENGAH SHALAT. Yang ada dalilnya adalah mencari sutroh SEBELUM mulai shalat.”

(Liqa Babil Maftuh, kaset no. 155, fatwa no. 16, Al Mausu'ah Asy Syamilah)

سترة الإمام سترة للمأموم أثناء الصلاة:
________________________________________
السؤال: نعلم بأن سترة الإمام سترة للمأموم، فإذا انتهى الإمام من صلاته وقام المأموم يقضي فهل تستمر سترة الإمام سترة للمأمومين، أو يكون الإمام سترة للمأموم بعد انفراده؟
________________________________________
الجواب: المأموم لما سلم الإمام صار منفرداً فلا تكون سترة الإمام سترة له حتى الإمام الآن ليس بإمام؛ لأنه انصرف وذهب عن مكانه، لكن هل يشرع للمأموم بعد ذلك إذا قام يقضي ما فاته أن يتخذ سترة؟ الذي يظهر لي: أنه لا يشرع، وأن الصحابة رضي الله عنهم إذا فاتهم شيء قضوا بدون أن يتخذوا سترة، ثم لو قلنا: بأنه يستحب أن يتخذ سترة، أو يجب على قول من يرى وجوب السترة، فإن الغالب أنه يحتاج إلى مشي وإلى حركة لا نستبيحها إلا بدليل بين، فالظاهر أن المأموم يقال له: سترة الإمام انتهت معك وأنت لا تتخذ سترة؛ لأنه لم يرد اتخاذ السترة في أثناء الصلاة، وإنما تتخذ السترة قبل البدء في الصلاة.

الموسوعة الشاملة - لقاءات الباب المفتوح - للشيخ بن عثيمين شريط رقم 155

✏ Fatwa Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah :

حكم من مشى خطوات من أجل السترة

أرى البعض من الشباب إذا سلم الإمام من الصلاة وبقي على هذا الشاب بعض الركعات فإنه يتقدم بعض الخطوات إلى الأمام؛ لكي يمنع المارين عن المصلين الآخرين، فهل فعله هذا صحيح، وهل خطواته تلك تبطل الصلاة؟

PERTANYAAN :
Saya melihat pada sebagian pemuda jika imam shalat telah salam (selesai) dan tersisa untuk pemuda ini beberapa rakaat maka dia melangkah/berjalan beberapa langkah ke depan untuk mencegah orang yang lewat dari jamaah shalat yang lain, apakah perbuatan ini benar ? dan apakah melangkah ini membatalkan shalat ?

لا يضره إن شاء الله، خطوات يسيرة حتى يمر الناس من وراءه لا يضره ذلك إن شاء الله إن كان بقي عليه صلاة قضى، لكن كونه يبقى في مكانه ويصلي في مكانه الحمد لله، أولى من التقدم.

JAWAB :

Tidak memudharatkan/membatalkan shalatnya in syaa Allah. Melangkah sedikit sehingga orang-orang bisa lewat di belakang orang yang shalat, ini tidak membatalkan shalatnya, in syaa Allah. Jika masih ada raka’at yang tersisa, maka sempurnakanlah.

NAMUN jika ia TETAP pada tempatnya, shalat TETAP pada tempatnya, alhamdulillah, ini LEBIH UTAMA DARIPADA MELANGKAH”.

حكم من مشى خطوات من أجل السترة | - http://www.binbaz.org.sa/mat/14420

semoga bermanfaat !!

أخوكم،..
أبو بلال المكسري

 SAS
 Ittiba'us Sunnah

»»»» Via Grup WA Al Ukhuwah (by. Ustadz Anas, Semarang)

Senin, 05 Januari 2015

HUKUM ADOPSI ANAK

����Suami Istri Mengasuh Anak Kecil yang Tidak Diketahui Identitasnya, Apakah Anak Itu Dianggap Mahram Bagi Istrinya?��

��.رجل وامرأة تبنيا طفلا مجهول الهوية هل يعتبر محرما للمرأة؟

��الفتوى رقم (10713)
س: أسأل سماحتكم عن حكم طفل رضيع أخذه رجل وزوجته من الدولة وعمره لا يتجاوز الشهرين، من قبل حضانات الدولة، على أن يربوه ويكون ولدا لهم، حيث لا يوجد لهم أطفال، وأعمارهم كبيرة، وبعد مدة توفي الزوج وبقيت الزوجة والطفل معها، وهي تحسبه كابنها وتحبه وتغليه كما تغلي الأم ولدها حسب قولها، وقد كلفتني بأن أسأل لها عن حكمه، وهل هو يكون من المحارم لها، أو أنها تتغشا عنه إذا كبر، حيث تردد لها كلام بأنها لابد أن تحتجب عنه، ولا يكون محرما لها، وهي مقطوعة، وقد تعلقت به تعلقا شديدا، وهو كذلك ما يدعوها إلا باسم الأمومة، كما يدعو الولد أمه، وتقول إنها عرضت عليه ثديها وهو صغير ولكنها لم تدر عليه، وهو الآن في حدود الخامسة أو الرابعة من عمره، وهي الآن محتارة في أمره مع تعلقها الشديد به، وتعلقه بها كأنه ابنها تماما. لذا آمل من سماحتكم إعطاءنا الجواب الكافي في ذلك، وهل هو محرم لها؟ مع العلم بأنه لم يرث من زوجها المتوفى حسب الشرع في ذلك، فهي تسأل: هل يكون محرما لها ويكون مثل ابنها لا تحتجب عنه أو يكون أجنبيا عنها؟

��ج: الطفل الذي أخذه الرجل وزوجته من الحضانة يعتبر أجنبيا منهما، ولا صلة تجمعه بهما، لا بسبب ولا نسب، كما أنه لم تدر عليه لبنا عندما أرضعته، وعلى ذلك يجب على المرأة المذكورة الاحتجاب عنه عند كبره، وهي مثابة على تربيته وكفالته والإنفاق عليه، وتشكر على ذلك ونرجو الله أن يضاعف مثوبتها.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

��اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

��الرئيس: عبد العزيز بن عبد الله بن باز
نائب الرئيس: عبد الرزاق عفيفي
عضو: عبد الله بن غديان

��Fatwa Nomor:10713

��Pertanyaan:

��Saya ingin bertanya kepada Anda mengenai hukum seorang bayi yang diadopsi oleh sepasang suami istri. Bayi tersebut berusia tidak lebih dari dua bulan dan diambil dari sebuah panti asuhan milik negara. Mereka ingin merawat dan menjadikan bayi itu sebagai anak, karena mereka belum memiliki keturunan dan usia mereka sudah tua. Setelah beberapa lama, sang suami meninggal dunia, dan tinggallah istrinya bersama anak itu. Dia menganggap anak itu seperti putra kandungnya sendiri. Dia mencintai dan merawatnya sebagaimana seorang ibu memperlakukan anak kandungnya. Demikian menurut pengakuannya. Dia meminta saya bertanya status hukum anak itu,

��apakah dia termasuk mahram baginya, atau apakah dia harus menggunakan hijab saat anak itu dewasa?

��Banyak kabar yang dia terima bahwa dia harus menggunakan hijab di hadapan anak itu dan anak itu tidak bisa menjadi mahram baginya. Wanita itu merasa sedih. Dia merasa sudah memiliki ikatan yang sangat kuat dengan anak itu. Anak itu pun sudah menyebutnya dengan panggilan "ibu", seperti seorang anak memanggil ibu kandungnya. Dia mengatakan bahwa dia pernah menyodorkan puting payudaranya saat anak itu masih kecil, tetapi air susunya tidak mengalir. Sekarang, anak itu sudah berusia sekitar lima atau empat tahun. Wanita itu menjadi amat bimbang karena sangat tergantung dengan anak angkatnya. Anak angkatnya itu pun memiliki ketergantungan kepadanya, seolah-olah dia anak kandungnya. Oleh karena itu, saya mengharapkan Anda dapat memberikan jawaban yang cukup memuaskan dalam masalah ini. Apakah anak itu mahram baginya, mengingat bahwa berdasarkan hukum syariat, anak itu tidak mendapat bagian warisan dari suami wanita tersebut?

��Wanita itu menanyakan apakah anak ini bisa menjadi mahramnya dan berstatus seperti anak kandungnya sendiri, sehingga dia tidak perlu menggunakan hijab saat anak itu dewasa nanti?

↕Atau, apakah anak ini tetap menjadi orang asing baginya?

��Jawaban:

��Anak dari panti asuhan yang diasuh oleh sepasang suami istri itu termasuk orang asing dan tidak ada hubungan (syar'i) yang dapat menyatukan anak ini dengan mereka berdua, baik karena keturunan atau sebab lainnya.

��Selain itu, air susu wanita tersebut tidak mengalir saat menyusuinya.

❗Dengan demikian, dia harus menggunakan hijab saat anak itu dewasa. Dia akan mendapatkan pahala atas jerih payahnya mendidik, mengasuh, dan membiayai anak itu. Tindakannya itu patut dihargai, dan kami memohon kepada Allah agar melipatgandakan ganjaran untuknya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

��Al-Lajnah Ad-Daimah Lilbuhutsil Ilmiyyah wal Ifta'

��Ketua : Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil Ketua: Asy-Syaikh Abdurrazzaq 'Afifi

Anggota : Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan

��WhatsApp Al-Ukhuwwah

������������
[21:38 27/12/2014] ‪+62 812-2540-877‬: enak ada lapangane. bisa parkir di situ skalian
[21:42 27/12/2014] ‪+62 812-2540-877‬: ancer2nya jembatan ke4 belok kiri, trs per4an pertama belok kanan. masjid sblh kiri tdk jauh dari situ
[16:46 28/12/2014] UstAnasAbuZulfaSMG: ������������

��Kecintaan Seorang Mukmin dan Seorang Musyrik��

��قال الشيخ عبد الرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله تعالي:

��{وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ }

��أي: من أهل الأنداد لأندادهم, لأنهم أخلصوا محبتهم له, وهؤلاء أشركوا بها، ولأنهم أحبوا من يستحق المحبة على الحقيقة, الذي محبته هي عين صلاح العبد وسعادته وفوزه، والمشركون أحبوا من لا يستحق من الحب شيئا, ومحبته عين شقاء العبد وفساده, وتشتت أمره.

��Berkata Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir Assa'di rahimahullahu ta'ala:

��"Orang yang beriman sangat mencintai Allah ta'ala dibandingkan dengan kecintaan orang musyrik terhadap sesembahan mereka.

��Sebab, orang yang beriman memurnikan kecintaannya kepada Allah ta'ala, sedangkan orang musyrik mempersekutukan-Nya dalam hal kecintaan.

☔Selain itu, orang yang beriman mencintai Dzat yang berhak untuk untuk dicintai secara hakiki (yaitu Allah ta'ala), yang kecintaan terhadap-Nya adalah sumber kebaikan, kebahagiaan, dan keberuntungannya.

��Adapun orang musyrik mencintai sesuatu yang tidak berhak dicintai, sehingga kecintaan itu menjadi sumber kesengsaraan, kerusakan, dan kekacauan urusannya."

��Sumber: Taisirul Karimir Rahman, al-Baqarah: 165

��Via Grup WhatsApp Al-Ukhuwwah (Semarang, by. Ustadz Anas hafidhohullah)

��⚡��⚡����

HUKUM MENJUAL PRODUK IMITASI

Asy-Syaikh Muhammad Ali Firkous hafizhahullah (ulama Aljazair) ditanya, “Ada beberapa produk yang ditiru oleh pihak tertentu lalu dijual dengan kesan seakan produk tersebut adalah produk asli, padahal imitasi. Apakah tindakan ini tergolong melanggar hak orang lain? Apa yang harus dilakukan oleh orang yang memiliki barang imitasi tersebut?”

��Beliau menjawab, “Hendaknya seorang muslim menjadikan kejujuran sebagai sifat yang melekat pada dirinya, lahir dan batin. Di antara kejujuran yang seharusnya dimiliki seorang muslim adalah kejujuran dalam berbisnis, dengan tidak menipu atau pun melakukan pemalsuan dalam kondisi apa pun. Kejujuran adalah penyempurna iman dan pelengkap keislaman seseorang.

قال تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ

Allah berfirman (yang artinya), 'Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian bersama orang-orang yang jujur.' (Q.s. At-Taubah:119)

��Perilaku bisnis di atas tidaklah diperbolehkan oleh syariat, karena beberapa alasan:

1.   mengambil hak orang lain tanpa seizinnya;
2.  membohongi dan menipu publik;
3. menyelisihi aturan pemerintah yang wajib ditaati, selama itu bukan maksiat.

��Jadi, perilaku di atas adalah perilaku buruk dan menyakiti kaum muslimin. Keburukan bukanlah perilaku dan karakter seorang muslim.

قال تعالى: وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَاناً وَإِثْماً مُّبِيناً

Allah berfirman (yang artinya), 'Dan orang-orang yang menyakiti lelaki yang beriman maupun perempuan yang beriman, tanpa adanya kesalahan yang mereka lakukan, maka sungguh dia telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.' (Q.s. Al-Ahzab:58)

وقال تعالى: وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ

Allah berfirman (yang artinya), 'Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.' (Q.s. Fathir:43)

��Seorang muslim itu menyukai kebaikan dan menjaga jarak dari keburukan. Oleh sebab itu, hendaklah seorang muslim menjauhi perilaku bisnis semacam itu dan tidak membantu pelakunya untuk mengedarkan produk imitasinya.

لقوله تعالى : وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Allah berfirman (yang artinya), 'Dan hendaknya kalian tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong untuk melakukan dosa dan permusuhan.' (Q.s. Al-Maidah:2)

    ⛅Berdasarkan uraian di atas, siapa saja yang menjual produk imitasi dengan kesan seakan-akan (barang tersebut) asli maka dia bukanlah orang yang bisa dipercaya dan bukanlah seorang yang menghendaki kebaikan untuk konsumen.

��Padahal, Nabi bersabda,

أدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَن ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

'Tunaikan amanah orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah engkau khianati orang yang mengkhianatimu.' (H.r. Abu Daud, Tirmidzi, Darimi, dan Al-Hakim; dari Abu Hurairah; dinilai shahih lighairihi oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 423)

⚡Oleh karenanya, penjual produk tersebut berdosa. Namun, mengingat bahwa keuntungan yang didapat tidaklah haram karena zatnya maka penjual boleh memanfaatkannya.

��Adapun terkait dengan produk imitasi yang masih tersisa, maka itu boleh dijual. Dengan syarat, calon pembeli diberitahu bahwa produk tersebut tidaklah asli. Jika setelah mengetahui kondisi barang yang sebenarnya, dia tetap mau membelinya, maka tidak masalah. Akan tetapi, jika produk imitasi sudah habis terjual, penjual hendaknya menolak untuk membantu produsen imitasi untuk menjualkan produknya.

��Setiap muslim wajib bertakwa kepada Allah dan menempuh jalan rezeki yang halal, karena bertakwa kepada Allah dan membuat Allah ridha adalah sebab untuk mendapatkan kemudahan dari Allah.”

Sumber: http://www.ferkous.com/rep/Bi59.php

�� Via Grup WhatsApp Al-Ukhuwwah (Semarang, by. Ustadz Anas hafidhohullah)

������������

HUKUM MEMAKAI JUBAH DAN GAMIS

��Tanya:
Afwan ustadz, apa hukumnya memakai jubah dan gamis?

��Dijawab Oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari hafizhahullah :

��Maksudnya?
Memakai jubah, atau dalam bahasa arab disebut (قميص), termasuk pakaian yang paling disenangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْقَمِيصُ

Pakaian yang paling dicintai nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah gamis (الْقَمِيصُ) (HR. Tirmidzi no. 1762 dan Abu Daud no. 4025. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

☝Kata para ulama, الْقَمِيصُ yaitu pakaian yang panjang hingga ke bawah lutut, atau lebih tepat kita menyebutnya jubah. Tapi seorang ingin memakai yang lain, dengan syarat menutup aurat, tidak menggunakan celana ketat yang memperlihatkan lekukan tubuhnya, yang memperlihatkan auratnya. Kalau seorang memakai baju koko, ya sebaiknya dengan sarung. Sehingga tidak menampakkan lekukan tubuhnya pada bagian aurat.

❗Kalau kita mengatakan, diantara syarat pakaian wanita harus longgar agar tidak terlihat lekukan tubuhnya, tidak menampakkan auratnya.

⚡Laki-laki juga sama, ketika menutup aurat maka dia menutupnya dengan tidak menampakkan lekukan dan tidak menampakkan kulit, yakni tidak tipis dan tidak ketat. Dan tidak mesti jubah, seorang memakai gamis atau seorang memakai baju koko, tapi memakai sirwal, memakai celana yang longgar, yang tidak membentuk, tidak mengapa Insya Allah.

����Download Audio di http://www.thalabilmusyari.web.id/2014/12/hukum-memakai-jubah-dan-gamis.html

________________________
     مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد

�� WA Forum Berbagi Faidah. Dikutip dari TIS

KUMPULAN FATWA ULAMA SEPUTAR HUKUM "PERAYAAN DAN UCAPAN SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYYAH"

» Berkata Al 'Alamah Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin -Rahimahullohu- :

"Bukan termasuk sunnah kita menjadikan 'ied (acara rutin) dengan masuknya tahun baru hijriyyah atau (menjadikan kebiasaan) saling mengucapkan selamat."

��Reff.: Adh dhiyaul lami' 702
〰〰〰〰〰

» Al 'Alamah Sholih Al Fauzan -hafidhohulloh- ditanya :

● Penanya :
Apabila seseorang menyampaikan kepadaku "كل عام وأنتم بخير"
(Sepanjang tahun engkau dalam kebaikan)
Apakah ucapan seperti ini disyari'atkan pada hari-hari ini (tahun baru hijriyyah -pent) ?

■ Jawaban :
Tidak, ucapan selamat seperti ini tidak disyari'atkan. Maka ini tidak boleh.

�� Reff.: Al Ijabat Al Muhimmah (hal.230)
〰〰〰〰〰

» Al Lajnah Ad Daimah mengeluarkan fatwa (No.20795) :

"Bahwasannya tidak boleh memberikan ucapan selamat tahun baru hijriyyah, dikarenakan tidak disyari'atkan untuk memperingatinya."
〰〰〰〰

» Al 'Alamah Ibnu Utsaimin -Rahimahullohu- : 

● Pertanyaan :
Fadhilatusy Syaikh !! Berbicara mengenai tahun baru, apa hukum mengucapkan selamat tahun baru hijriyyah? Dan apa yang diwajibkan bagi kita, apabila ada orang yang mengucapkan selamat?

■ Jawaban :
Apabila ada seorang yang mengucapkan selamat (kepadamu) maka jawablah.
Namun, engkau tidak memulai untuk memberi ucapan selamat (tahun baru).
Ini yang benar dalam permasalahan ini.

Apabila seorang yang berkata kepadamu : "Kami mengucapkan selamat tahun baru" kemudian dia mengatakan :
"هنأك الله بخير وجعله عام خير وبركة."
"Semoga Alloh membahagiakanmu dengan kebaikan, menjadikan tahun yang penuh kebaikan dan barokah."
Akan tetapi engkau tidak memulai memberi ucapan selamat kepada orang lain.
Aku tidak mengetahui perbuatan seperti itu datang dari salaf, bahwa mereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru.

Bahkan ketahuilah, mereka para salaf tidaklah menjadikan bulan Al Muharrom sebagai awal tahun baru, kecuali pada khilafah Umar bin Khotob -radhiyallohu 'anhu-.

�� Reff.: Silsilah liqo syahri 44
〰〰〰〰

● Dan beliau -Rahimahulloh- juga ditanya :
Apakah boleh memberi ucapan selamat dengan masuknya tahun baru ?

■ Jawaban :
Memberi ucapan selamat dengan masuknya tahun baru, merupakan perbuatan yang tidak ada asalnya dari perbuatan para salafus sholeh, maka janganlah engkau yang memulai untuk mengucapkan selamat.
Akan tetapi, jika disana ada orang yang mengucapkan selamat (kepadamu) maka jawablah.
Dikarenakan ini telah menjadi kebiasaan tengah masyarakat.

Namun sekarang yang seperti ini jarang dijumpai, karena sebagian mereka sudah mengetahui. -Walillahil hamd-
Dan sebagian orang dengan cara saling mengirim kartu ucapan selamat.

● Bagaimana bentuk ucapan selamat yang digunakan diantara manusia?

■ Jawaban :
Yaitu mereka mengucapkan ucapan selamat dengan bertemunya tahun baru :
"نسأل الله أن يتجاوز عنك ما مضى في العام الماضي، أن يعينك على ما يستقبل."
"Kami memohon kepada Alloh untuk memaafkanmu dari apa yang telah lewat di tahun yang lalu, dan agar Dia menolongmu di waktu yang akan datang."
Atau do'a yang semisalnya.

● Apakah boleh dikatakan :
"كل عام وأنتم بخير"

■ Jawaban :
TIDAK BOLEH.
Tidak diucapkan pada 'iedul adhha, tidak pula 'iedul fitri dan tidak pula pada awal tahun baru (hijriyyah).

�� Reff.: Liqo babil maftuh liqo. 202

〰〰〰〰
☆ Alih bahasa : Ibrohim Abu Kaysa hafidhohullah.

�� Sumber: http://forumsalafy.net/?p=7545

KUMPULAN FATWA ULAMA SEPUTAR HUKUM "PERAYAAN DAN UCAPAN SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYYAH"

» Berkata Al 'Alamah Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin -Rahimahullohu- :

"Bukan termasuk sunnah kita menjadikan 'ied (acara rutin) dengan masuknya tahun baru hijriyyah atau (menjadikan kebiasaan) saling mengucapkan selamat."

��Reff.: Adh dhiyaul lami' 702
〰〰〰〰〰

» Al 'Alamah Sholih Al Fauzan -hafidhohulloh- ditanya :

● Penanya :
Apabila seseorang menyampaikan kepadaku "كل عام وأنتم بخير"
(Sepanjang tahun engkau dalam kebaikan)
Apakah ucapan seperti ini disyari'atkan pada hari-hari ini (tahun baru hijriyyah -pent) ?

■ Jawaban :
Tidak, ucapan selamat seperti ini tidak disyari'atkan. Maka ini tidak boleh.

�� Reff.: Al Ijabat Al Muhimmah (hal.230)
〰〰〰〰〰

» Al Lajnah Ad Daimah mengeluarkan fatwa (No.20795) :

"Bahwasannya tidak boleh memberikan ucapan selamat tahun baru hijriyyah, dikarenakan tidak disyari'atkan untuk memperingatinya."
〰〰〰〰

» Al 'Alamah Ibnu Utsaimin -Rahimahullohu- : 

● Pertanyaan :
Fadhilatusy Syaikh !! Berbicara mengenai tahun baru, apa hukum mengucapkan selamat tahun baru hijriyyah? Dan apa yang diwajibkan bagi kita, apabila ada orang yang mengucapkan selamat?

■ Jawaban :
Apabila ada seorang yang mengucapkan selamat (kepadamu) maka jawablah.
Namun, engkau tidak memulai untuk memberi ucapan selamat (tahun baru).
Ini yang benar dalam permasalahan ini.

Apabila seorang yang berkata kepadamu : "Kami mengucapkan selamat tahun baru" kemudian dia mengatakan :
"هنأك الله بخير وجعله عام خير وبركة."
"Semoga Alloh membahagiakanmu dengan kebaikan, menjadikan tahun yang penuh kebaikan dan barokah."
Akan tetapi engkau tidak memulai memberi ucapan selamat kepada orang lain.
Aku tidak mengetahui perbuatan seperti itu datang dari salaf, bahwa mereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru.

Bahkan ketahuilah, mereka para salaf tidaklah menjadikan bulan Al Muharrom sebagai awal tahun baru, kecuali pada khilafah Umar bin Khotob -radhiyallohu 'anhu-.

�� Reff.: Silsilah liqo syahri 44
〰〰〰〰

● Dan beliau -Rahimahulloh- juga ditanya :
Apakah boleh memberi ucapan selamat dengan masuknya tahun baru ?

■ Jawaban :
Memberi ucapan selamat dengan masuknya tahun baru, merupakan perbuatan yang tidak ada asalnya dari perbuatan para salafus sholeh, maka janganlah engkau yang memulai untuk mengucapkan selamat.
Akan tetapi, jika disana ada orang yang mengucapkan selamat (kepadamu) maka jawablah.
Dikarenakan ini telah menjadi kebiasaan tengah masyarakat.

Namun sekarang yang seperti ini jarang dijumpai, karena sebagian mereka sudah mengetahui. -Walillahil hamd-
Dan sebagian orang dengan cara saling mengirim kartu ucapan selamat.

● Bagaimana bentuk ucapan selamat yang digunakan diantara manusia?

■ Jawaban :
Yaitu mereka mengucapkan ucapan selamat dengan bertemunya tahun baru :
"نسأل الله أن يتجاوز عنك ما مضى في العام الماضي، أن يعينك على ما يستقبل."
"Kami memohon kepada Alloh untuk memaafkanmu dari apa yang telah lewat di tahun yang lalu, dan agar Dia menolongmu di waktu yang akan datang."
Atau do'a yang semisalnya.

● Apakah boleh dikatakan :
"كل عام وأنتم بخير"

■ Jawaban :
TIDAK BOLEH.
Tidak diucapkan pada 'iedul adhha, tidak pula 'iedul fitri dan tidak pula pada awal tahun baru (hijriyyah).

�� Reff.: Liqo babil maftuh liqo. 202

〰〰〰〰
☆ Alih bahasa : Ibrohim Abu Kaysa hafidhohullah.

�� Sumber: http://forumsalafy.net/?p=7545

Sabtu, 03 Januari 2015

MEMBERI NAFKAH KEPADA SAUDARA YANG MEMBUTUHKAN

الفتوى رقم ( 455 )

الحمد لله وحده ، وبعد :
فقد اطلعت اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء على خطاب معالي رئيس المكتب الخاص لجلالة الملك حفظه الله رقم (1489 \ 93 هـ) وتاريخ 19 \ 3 \ 1393 هـ والمحال من الأمانة العامة لهيئة كبار العلماء ، بشرح فضيلة رئيس إدارات البحوث العلمية والإفتاء والدعوة والإرشاد المتضمن أن امرأة تقدمت لجلالة الملك بمعروض ذكرت فيه أن زوجها توفي وترك ستة أبناء قصر ، ولهم أخوان من أبيهم موظفان ، والتمست تكليفهما بالصرف على إخوتهما ، ويطلب معاليه الإفادة هل الأخ ملزم بالصرف على إخوانه شرعا ، للعرض عن ذلك على أنظار جلالته؟
وبدراسة اللجنة الدائمة للاستفتاء أجابت بما يلي :
المذهب أن الإنسان تلزمه نفقة كل قريب له ؛ وذلك بثلاثة شروط :

⏪أحدها : أن يكون فقيرا لا مال له ولا كسب يستغني به عن إنفاق غيره عليه .

⏪الثاني : أن يكون ما ينفقه المنفق فاضلا عن نفقة نفسه ونفقة من هو أولى بالإنفاق عليه من ذلك الشخص المنفق عليه ، كزوجه ووالده وولده ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم فيما رواه جابر بن عبد الله : « إذا كان أحدكم فقيرا فليبدأ بنفسه فإن كان فضل فعلى عياله فإن كان فضل فعلى قرابته » (1)
__________
(1) الشافعي 2 / 68 ، 68- 69 ، وأحمد 3 / 305, ومسلم 2 / 693 برقم (997) ، وأبو داود 4 / 266 برقم (3957) ، والنسائي 5 / 70 ، 7 / 304 برقم (2546 ، 4653 ، 4653) ، وعبد الرزاق 9 / 144 برقم (16681) ، وابن خزيمة 4 / 100 ، 102 ، برقم (2445 ، 2452) ، وابن حبان 2 / 128 ، 131- 132 ، 303 ، 304 ، 306 برقم (3339 ، 3342 ، 4931 ، 4932 ، 4934) والبيهقي 10 / 309 ، 309- 310 ، 310

⏪الثالث : أن يكون المنفق وارثا بالفعل ؛ لقوله تعالى : { وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ } (1) وذلك أن بين المتوارثين قرابة تقتضي كون الوارث أحق بمال الموروث من سائر الناس ، فتعين أن يختص بوجوب نفقته علي دون غيره ، ولا يؤثر على وجوب النفقة كون المنفق عليه ليس وارثا للمنفق ، وبهذا قال الحسن ومجاهد والنخعي وقتادة والحسن بن صالح وابن أبي ليلى وأبو ثور ، فإن كان للفقير أكثر من وارث يستطيع النفقة فإن نفقته على ورثته بقدر إرثهم ما لم يكن أحد الورثة أبا ، فإن كان فيهم أب وجبت النفقة عليه وحده لقوله تعالى : { وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ } (2) وقوله لهند زوجة أبي سفيان : « خذي ما يكفيك وولدك بالمعروف » (3) .

وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

��اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

��عضو ... عضو ... نائب الرئيس
عبد الله بن سليمان بن منيع ... عبد الله بن عبد الرحمن بن غديان ... عبد الرزاق عفيفي
__________
(1) سورة البقرة الآية 233
(2) سورة البقرة الآية 233
(3) صحيح البخاري النفقات (5049),صحيح مسلم الأقضية (1714),سنن النسائي آداب القضاة (5420),سنن أبو داود البيوع (3532),سنن ابن ماجه التجارات (2293),مسند أحمد بن حنبل (6/206),سنن الدارمي النكاح (2259).

��Fatwa Nomor:455

Segala puji hanya bagi Allah. Amma ba'du,
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa telah menelaah tentang permohonan fatwa dari Kepala Dewan Khusus Kerajaan, No. 1489/93 H, tanggal 19/3/1393 H, yang dilimpahkan kepada Komite Sekretariat Jenderal Dewan Ulama Senior. Direktur Lembaga Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Penyuluhan menjelaskan bahwa seorang wanita mengirim pengaduannya kepada Yang Mulia Raja tentang suaminya yang wafat dan meninggalkan enam orang anak yang masih kecil-kecil, dan dua anak laki-laki yang telah bekerja, dari istri yang berbeda. Wanita itu meminta kepada mereka berdua untuk memberi nafkah saudara-saudara seayah mereka. Oleh karena itu, Kepala Dewan bertanya apakah menurut syariat keduanya diwajibkan memberi nafkah kepada saudara-saudaranya?

��Jawaban fatwa atas hal ini akan ditembuskan kepada Yang Mulia Raja.
Setelah melakukan pengkajian terhadap permasalahan yang diajukan, maka Komite menjawab sebagai berikut:

✅Menurut pendapat yang paling benar, bahwa seseorang berkewajiban memberi nafkah kerabat dekatnya, dengan tiga syarat:

➡Pertama, orang yang diberi nafkah itu adalah orang miskin, tidak memiliki harta atau penghasilan, yang bertujuan agar mereka tidak meminta sedekah kepada orang lain.

➡Kedua, nafkah yang diberikan adalah kelebihan dari kebutuhan pribadinya dan orang-orang yang lebih berhak menerima nafkah seperti istri, orang tua, dan anaknya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah,

"Jika salah seorang dari kalian fakir, maka mulailah (memberi nafkah) dari dirinya sendiri. Jika terdapat sisa dari hartanya, maka hendaknya dia menafkahi orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Jika masih terdapat kelebihan dari hartanya, maka hendaklah dia menafkahi para kerabatnyanya."

➡Ketiga, orang yang memberi nafkah tersebut adalah ahli warisnya, berdasarkan firman Allah Ta'ala,

"Dan pewaris pun berkewajiban demikian Dengan adanya hubungan kekerabatan antar ahli waris, maka ahli waris lebih berhak untuk menerima bantuan dari saudaranya (yang akan mewarisinya kelak), dibandingkan orang lain."
��Dengan demikian, secara khusus dia diwajibkan memberi nafkah kepada ahli warisnya bukan kerabat yang lain. Namun, sekalipun tidak memiliki hubungan ahli waris, memberi nafkah kepada kerabat tetap wajib. Ini sesuai dengan pendapat Hasan, Mujahid, Nakha'i, Qatadah, Hasan bin Shalih, Ibnu Abu Laila, dan Abu Tsaur.

��Apabila seseorang yang miskin memiliki lebih dari satu ahli waris yang mampu memberi nafkah, maka kewajibannya ditanggung oleh semua ahli warisnya sesuai ketentuan besaran persentase waris mereka, dengan syarat bahwa salah satu ahli waris tersebut bukan bapaknya.

��Sebab, seorang bapak wajib memberi nafkah kepada anaknya yang miskin tersebut sendirian, berdasarkan firman Allah Ta'ala,

"Dan kewajiban ayah memberi makan kepada para ibu."

⏳Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkata kepada Hindun istri Abu Sufyan, "Ambillah apa yang mencukupimu dan anakmu secara wajar."

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

��Al-Lajnah ad-Daimah Lilbuhutsil Ilmiyyah wal Ifta'

��Wakil Ketua: Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Ghudayyan, Asy-Syaikh Abdullah bin Sulaiman bin Mani'

��WhatsApp Al-Ukhuwwah (Ustadz Anas hafidhohullah, Semarang).

������������

Powered By Blogger