Bismillaahirrahmaanirrahiim...
البسملة بخط يد الشيخ رحمه الله

Senin, 31 Mei 2010

Adab Seorang Muslim Menggunakan Jawwal (Handphone) - Bagian 1

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Wa ba'd,
Tidak diragukan, keberadaan Jawwal/HP merupakan salah satu di antara sekian banyak nikmat Allah. Maka agar nikmat tersebut bisa tetap terjaga dan benar-benar menjadi karunia bagi kita perlu kita mensyukuri nikmat tersebut. Di antara bentuk syukur adalah menggunakan nikmat tersebut pada tempatnya dan menjadikannya sebagai sarana yang bisa membantu untuk kita menjalankan ketaatan kepada Allah.

*******
Ini adalah risalah yang ditulis oleh Al-Akh Abu Ibrahim ‘Abdullah bin Ahmad bin Muqbil hafizhahullah, dengan mendapat taqrizh (pujian) dari Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi Al-‘Abdali hafizhahullah. Risalah ini berisi tentang pembahasan 24 pedoman dan bimbingan syar’i dalam menggunakan Jawwal/ (HP). Saya mencukupkan untuk langsung menyebutkan pedoman-pedoman tersebut saja tanpa menyebutkan pujian Asy-Syaikh Al-Wushabi dan muqaddimah penulis.
*****
Kami meringkas risalah tersebut (Sumber : www.salafy.or.id) untuk antum semua sebagaimana berikut :


1. Bimbingan Pertama : Jagalah Selalu Ucapkan Salam yang Islami

Sebagian manusia telah terbiasa ketika membuka percakapan dalam telepon (salam pembuka) dengan kata ‘Hallo‘. Asal kata ini adalah dari bahasa Inggris yang maknanya adalah ‘selamat datang‘, sehingga dari sini mereka telah terjatuh kepada sikap taqlid kepada dunia Barat.

Dan sebagian yang lain menjadikan salam pembuka di antara mereka dalam bentuk celaan, caci makian, dan saling melaknat, mereka tidaklah menempuh kecuali dengan kebiasaan seperti ini. Kemudian jika telah selesai dari percakapannya ditutup dengan kalimat ‘selamat jalan‘ atau ‘bye bye‘.

Ini semua merupakan bentuk penyelisihian terhadap tuntunan yang diajarkan oleh Islam, yaitu mengucapkan salam dan senantiasa menjaganya, baik ketika memulai (berjumpa) maupun mengakhirinya (berpisah).

وعن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه ،قال :قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : حق المسلم على المسلم ست”قيل ما هن يارسول الله؟قال:”إذا لقيه فسلم عليه،وإذا دعاك فأجبه،وإذا استنصحك فانصح له ،وإذا عطس فحمد الله،فشمته إذا مرض ؛فعده وغذا مات؛فاتبعه”

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Hak seorang muslim terhadap muslim yang lainny ada enam. Ditanyakan kepada beliau: apa saja itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Jika berjumpa ucapkan salam kepadanya, jika dia mengundangmu penuhilah undangannya, jika dia meminta nasehat kepdamu nasehatilah dia, jika dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah maka ucapkan yarhamukallah, jika dia sakit jenguklah dia, jika dia meninggal maka iringilah jenazahnya.(HR. Al-Bukhari 1183, Muslim 2162, dan ini adalah lafazh Al-Imam Muslim)

2. Bimbingan Kedua : Yang Memulai Salam, Siapakah yang memulai salam? Si penelpon ataukah yang ditelpon?

Yang memulai salam hendaknya si penelepon, karena dia itu seperti orang yang mengetuk pintu rumah orang lain dan meminta izin untuk masuk. Sehingga dia harus memulai pembicaraannya dengan ucapan: ‘Assalamu ‘alaikum‘ atau ‘Assalamu ‘alaikum warahmatullah‘ atau Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh‘.

Maka yang ditelepon pun hendaknya menjawab dengan mengucapkan: ‘Wa’alaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh‘ atau dengan jawaban yang sama persis diucapkan oleh yang memberi salam.

3. Bimbingan Ketiga : Memperhatikan Waktu

Di antara penyebab tersia-siakannya waktu yang ditimbulkan dari fasilitas ini (HP) adalah apa yang dinamakan dengan ‘permainan’ / ‘game‘. Sebagian orang banyak tersibukkan waktunya untuk permainan ini, lalai dari berdzikir kepada Allah dan tenggelam dalam permainan setan tersebut. Maka sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk memperhatikan waktunya dan menyibukkan hidupnya di dunia yang hanya beberapa menit ini dengan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma (bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda):

نعمتان مغبون فيها كثير من الناس :الصحة والفراغ

Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia melalaikannya: (1) kesehatan, dan (2) waktu luang. (HR. Al-Bukhari XI/196)

4. Bimbingan Keempat : Menjaga Lisan

Perkataan-perkataan yang engkau ucapkan itu akan dihitung dan terekam, maka ber
hati-hatilah engkau dari ketergelinciran ke dalam perbuatan ghibah terhadap seorang muslim, berdusta atas nama dia, ataupun berbuat namimah (adu domba). Berhati-hatilah dari mencela, mencaci, serta ucapan yang mengandung kefasikan dan dosa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau diam. (HR. Al-Bukhari XI/265, Muslim 47).

5. Bimbingan Kelima : Hemat (tidak menghamburkan) Harta (Pulsa)

Ketika seorang muslim bermudah-mudahan membeli pulsa dan untuk ngobrol ini itu yang tidak bermanfaat, maka ini adalah termasuk sikap berlebihan (pemborosan), adapun jika menggunakannya untuk perkara yang bermudharat, maka ini termasuk bentuk perbuatan tabdzir yang Allah larang dalam Al-Qur’an. Allah berfirman

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا * إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros, sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. (Al Isra’: 26-27)

6. Bimbingan Keenam : Berhati-hati dari Nyanyian

Kebanyakan orang terjatuh kepada sikap bermudah-mudahan (menganggap enteng) untuk mendengarkan nyanyian, walaupun telah jelas dan gamblang dalil-dalil yang menunjukkan keharamannya. Sungguh ini adalah gejala yang tidak baik, wal ‘iyadzubillah.

Sebagaimana yang dikatakan Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna.

Beliau berkata : “(perkataan yang tidak berguna) itu adalah -demi Allah- nyanyian (lagu-lagu).

Demikian pula yang dikatakan shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Jabir, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Mak-hul, ‘Umar bin Syu’aib, dan ‘Ali bin Badzimah.

Kamis, 13 Mei 2010

Tanya Jawab Seputar Sholat bagi Karyawan


1. Shalat di Masjid

Tanya : Apakah boleh bagi karyawan melakukan sholat di kantornya sementara di sampingnya ada sebuah masjid, ataukah harus sholat di masjid ?

Jawab : Sunnah qauliyyah dan fi'liyyah tentang shalat jamaah di masjid telah ada sejak Rasulullah shalallah 'alaihi wa sallam. Dan beliau membakar rumah mereka yang tidak melakukan shalat berjamaah di masjid, yang demikian itu dilakukan juga oleh para shahabat dan khalifahnya. Dalam sebuah hadits dinyatakan :
"Siapa yang mendengar adzan dan tidak mendatangi masjid maka ia tidak memiliki pahala shalat kecuali karena udzur syar'i."

Dalam hadits lain disebutkan :
"Seorang buta berkata kepada Rasulullah, " Wahai Rasulullah, saya tidak punya orang yang dapat menuntunku ergi ke masjid, apakah ada keringanan bagiku untuk shalat di rumah? Rasulullah menjawab : "Apakah engkau dapat mendengar adzan?" Dia menjawab : Ya. Nabi bersabda : "Datanglah ke masjid." Dalam riwayat lain, " Anda tidak punya keringanan untuk itu."

Dengan demikian jelaslah bahwa para karyawan tetap diwajibkan melakukan shalat dhuhur berjamaah di masjid yang terdekat, menurut sunnah dalam rangka menunaikan kewajiban juga agar tidak menyerupai orang munafik. (al Lajnah ad Daimah Kerajaan Saudi Arabia).

2. Sholat di Kantor
Tanya : Di sebuah perkantoran negara terdapat tempat untuk sholat, dan kebanyaka karyawan shalat di sana. Akan tetapi ada sebagian wanita yang sholat terpisah dengan berjama'ah. Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?

Jawab : Pertama saya bertanya apakah lembaga itu mungkin mengizinkan para karyawannyua untuk sholat di masjid terdekat yang ada di sekitar kantor? Apakah memungkinkan para karyawa sholat di masjid sebagiaman seharusnya tanpa melalaikan pekerjaannya? Karena pendapat paling kuat dari pendapat dari para ulama adalah wajibnya shalat berjamaah di masjid sekalipun memang sebagian ulama ada yang membolehkan shalat berjamaah di rumah atau kantor. Apabila tidak memungkinkan karena jauhmisalnya, atau jika diijinkan keluar dikhawatirkan para karyawan berleha-leha atau bisa menyebabkan tertundanya beberapa pekerjaan.
Dalam kondisi seperti ini, shalat di kantor di benarkan dan tidak ada salahnya. Karena menjaga tugas kantor adalah kewajibanjuga dan tidak boleh diabaikan. Tapi saya katakan, kalau memang memungkinkan cobalah melakukan shalat di kantor tersebut secara berjamaah atau dengan satu imam. Jika tidak bisa, maka shalatlah di lantai masing-masing tapi tetap secara berjamaah. (Syaikh Al 'Utsaimin, al Bab al Maftuh 19/28)


3. Sholat ada Waktunya
Tanya : Saya adalah seorang imigran yang bekerja mulai jam tujuh sore hingga jam tujuh pagi, bolehkah saya menjamak sholat?

Jawab : Tidak dibolehkan menjamak taqdim terhadap sholat sebelum masuk waktunya sekalipun ada tugas atau karena udzur. dan tidak boleh pula melakukan jamak ta'khir setelah habis waktunya tanpa udzur apapun. Dan sebuah aktivitas rutin tidak dapat dijadikan udzur syariat untuk melakukan jamak ta'khir atau alasan dibolehkannya melakukan shalat jamak.
Jika mungkin lakukanlah sholat di tempat kerja atau menutup toko untuk sementara wakt dan pergi ke mesjid. Para ulama telah menentukan syarat-syarat tertentu diperbolehkannya shalat jamak
misalnya karena safar, hujan, sakit, dan seterusnya. (Ibnu Jibrin, Fatawa Islamiyyah 1/378)

Wasiat Salaf untuk Pengusaha dan Karyawan

Bismillah..

Ulama salaf adalah panutan yang tiada bandingnya dalam berbagai hal. Mereka ahli dalam hal keimanan, ketakwaan, keilmuan, pegamalan, jihad, muamalah, dan lain sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang selalu pantas di jadikan qudwah dalam sgala bidang. Termasuk pula dalam hal pekerjaan..

Mereka bertakwa kepada Alah namun tidak melupakan sisi keduniawian. Mereka senantiasa menjadiakan dunia itu sebagai washilah untuk mewujudkan tegaknya keimanan mereka.
Berikut adalah tulisan ringkas seputar dunia kerja dan perekonomian yang disarikan dari tulisan dan fatwa para ulama salaf dengan harapan bisa menjadi bimbingan bagi kaum muslimin dalam meniti karier mereka...
*Selamat Menyimak*

1. Seruan untuk Bekerja dan Berusaha

"Ketahuilah sesungguhnya Allah itu baik, dan Dia tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Jika saja tubuh ini tumbuh dari barang yang haram maka neraka lebih pantas baginya" (HR THabrany dari Abu Bakar dari Rasulullah shalallah 'alaihi wa sallam, Shahiul Jami').

Salman al Farisy pernah berkata : Apabila pintu rezeki telah terbuka maka seketika jiwa merasa tenang. Dan seutama-utamanya dinar (rezeki) adalah yang dinafkahkan untuk keluarga dan anak istri yang menjadi tanggungannya"


Allah ta'ala telah berfirman kepada tiap hambanya :
"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekiNya. Dan hanya kepadaNyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." QS Al Mulk : 15.

Dalam ayat lain Allah ta'ala berfirman :
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah. Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung." QS Al Jumu'ah : 15.
"Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakan;ah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain)." QS Al Insyirah : 7.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa jika ia melalaikan orang yang menjadi tanggung jawabnya." HR Ahmad, Shohihul Jami' 4481.


2. Larangan Meminta dan Mengemis

Sesungguhnya setiap pekerjaan yang halal sekalipun dianggap rendah oleh sebagian orang itu jauh lebih baik dibanding meminta-minta. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al Imam Bukhary rahimahullah menyatakan :
"Jika seorang laki-laki mengambil tali ikatnya kemudian pergi ke gunung lalu membawa seikat kayu bakar di punggungnya lalu Allah mencukupi dan menjaganya (dari mengemis) itu lebih baik dari pada meminta kepada orang entah diberi atau tidak."

Dalam hadits lain yang diriwayatkan al Imaman Bukhory dan Muslim rahimahumallah : "Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah."

Sungguh agama Islam adalah agama yang mulia dan tidaklah mengajarkan sesuatu kecuali akhlaq yang mulia. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Barang siapa yang membuka pintu bagi dirinya untuk meminta-minta, niscaya Allah akan membukakan baginya 70 pintu kefakiran." (HR Turmudzi).

Perbuatan meminta-minta ini tidak hanya akan menjatuhkan harga dirinya di hadapan manusia tetapi juga di hadapan Allah 'azza wa jalla Rabbul 'alamin. Allah Dzat yang maha Kaya tidak menyukai hamba yang suka meminta-minta kepada orang lain.
"Meminta-minta akan selalu ada pada seorang hamba sampai dia bertemu Allah sementara di wajahnya tidak ada sepotong daging pun"

Jika engkau memang tidak benar-benar fakir ataupun dalam kondisi darurat seperti harus membayar diyat (denda) pembunuhan misalnya, maka janganlah engkau meminta bantuan materi dari orang lain. Bekerjalah, karena itu lebih baik dan harga diri jauh lebih penting.
Allah ta'ala berfirman : "Oranglain yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain." QS Al Baqarah : 273.

Kamis, 06 Agustus 2009

Ku sambut engkau wahai Ramadhan

Rabbi.., bila ku jatuh hati
Ku ingin terbang cepat
Hinggap di dahan penantian
Menunggu sang kekasih datang...
Hingga tiada setan yang menggodaku

Wahai Saudaraku Muslim, tak terasa Ramadhan yang kita nanti-nanti hampir tiba kembali. Mari siapkan diri tuk gapai ridho ilahi. Mari siapkan diri tuk muhasabah diri, mujahadah tiada henti, dan mengisi dengan berbagai amalan sholih....

Sudah siapkah engkau wahai saudaraku tuk mengarungi bahtera Ramadhon dengan bekal cukup sehingga kita bisa berlayar bersama dan berlabuh tuk menanti hasil perjalanan kita. Sungguh amat menyenangkan jika perjalanan Ramadhan kita tahun ini disertai bekal yang lebih banyak dan cukup dengan ilmu-ilmu agama sehingga amalan kita benar-benar diterima Allah ta'ala...

Marilah wahai Saudaraku, sejenak kita simak tulisan ringkas ini tuk menyempurnakan persaiapan kita menggapai keutamaan Ramadhan....

1. Menghitung hari bulan Sya’ban
Ummat Islam seyogyanya menghitung bulan Sya’ban sebagai persiapan memasuki Ramadhan. Karena satu bulan itu terkadang dua puluh sembilan hari dan terkadang tiga puluh hari, maka berpuasa (itu dimulai) ketika melihat hilal bulan Ramadhan.

Jika terhalang awan, hendaknya menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Karena Allah menciptakan langit-langit, bumi dan menjadikan bulan sabit tempat-tempat, agar manusia mengetahui jumlah tahun dan hisab. Satu bulan tidak akan lebih dari tiga puluh hari.

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “Puasalah kalian karena melihat hilal (bulan baru, red) dan berbukalah karena melihat hilal. Jika kalian terhalangi awan, sempurnakanlah bulan Sya’ban tiga puluh hari.” (HR Bukhari (4/106) dan Muslim (1081).

Dari Abdullah bin Umar Radiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda : “Janganlah kalian puasa hingga melihat hilal. Jika kalian terhalangi awan, hitunglah bulan Sya’ban.” (HR Al Bukhari (4/102) dan Muslim (1080))

Dari Adi bin Hatim Radiyallahu 'anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda : “Jika datang bulan Ramadhan puasalah tiga puluh hari kecuali kalian melihat hilal sebelum hari ketiga puluh.” (HR At Thahawi dalam Musykilul Atsar (no 501), Ahmad (4;/377), At Thabrani dalam al Kabir (17/171). Dalam sanadnya ada Musalid bin Said, beliau dhaif sebagaimana dikatakan oleh Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid (3/146), akan tetapi hadits ini mempunyai banyak syawahid, lihat Al Irwaul Ghalil (901) karya syaikhuna Al Albany hafidhohullah).


2. Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak [yaitu hari yang diragukan , apakah telah memasuki bulan Ramadhan atau belum, ed]

Oleh karena itu, seyogyanya seorang muslim tidak mendahului bulan puasa dengan melakukan puasa satu atau dua hari sebelumnya dengan alasan hati-hati, kecuali kalau bertepatan dengan puasa sunnah yang biasa ia lakukan. Dari Abu Hurairah Radiyallahu 'anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam pernah bersabda : “Jangan kalian mendahului Ramadhan dengan melakukan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali seseorang yang telah rutin berpuasa, maka berpuasalah.” (HR Muslim (573 – mukhtashar dengan muallaqnya).

Ketahuilah wahai saudaraku se-Islam, barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan, (berarti ia) telah durhaka kepada Abul Qashim Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. Shillah bin Zufar meriwayatkan dari Ammar : “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan berarti telah durhaka kepada Abul Qasim.” (Yaitu, hari yang masih diragukan, apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum, ed). (HR Bukhari (4/119), dimaushulkan oleh Abu Daud (3334), Tirmidzi (686), Ibnu Majah (3334), An Nasa’I (2199) dari jalan Amr bin Qais al Mala’l dari Abu Ishaq dari Shilah bin Zufar, dari Ammar. Dalam sanadnya ada Abu Ishaq, yakni as Sabi’I mudallis dan dia telah ‘an’anah dalam hadits ini, dia juga tercampur hafalannya, akan tetapi hadits ini mempunyai banyak jalan dan mempunyai syawahid (pendukung) dibawakan oleh al Hadits Ibnu Hajar al Atsqalani dalam Ta’liqu Ta’liq (3/141-142) sehingga beliau menghasankan hadits ini.

3. Jika seorang muslim telah melihat hilal hendaknya kaum muslimin berpuasa atau berbuka

Melihat hilal teranggap kalau ada dua orang saksi yang adil, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : “Berpuasalah kalian karena melihat hilal, berbukalah kalian karena melihatnya, berhajilah kalian karena melihat hilal, jika kalian tertutup awan, maka sempurnakanlah (bilangan bulan Sya’ban menjadi) tiga puluh hari, jika ada dua saksi berpuasalah kalian dan berbukalah.” (HR An Nasa’I (4/133), Ahmad (4/321), Ad Daruquthni (2/167) dari jalan Husain bin Al Harits al Jadali dari Abdurrahman bin Zaid bin Al Khattab dari para shahabat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam dan sanadnya hasan. Lafadz di atas adalah para riwayat An Nasa’I, Ahmad menambahkan : “Dua orang muslim.”

Tidak diragukan lagi, bahwa diterimanya persaksian dua orang dalam satu kejadian tidak menunjukkan persaksian seorang diri itu ditolak, oleh karena itu persaksian seorang saksi dalam melihat hilal tetap teranggap (sebagai landasan untuk memulai puasa)., dalam satu riwayat yang shahih dari Ibnu Umar Radiyallahu 'anhu, ia berkata : “Manusia mencari-cari hilal, maka aku kabarkan kepada Nabi bahwa aku melihatnya, maka Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam pun menyuruh manusia berpuasa.” (HR Abu Daud (2342), Ad Darimi (2/4), Ibnu Hibban (871), Al Hakim (1/423), Al Baihaqi (4/212), dari dua jalan, yakni dari jalan Ibnu Wahb dari Yahhya bin Abdullah bin Salim dari Abu Bakar bin Nafi’ dari bapaknya dari Ibnu Umar, sanadnya hasan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam At Talkhisul Habir (2/187).

(Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, Bab "Menjelang Bulan Ramadhan", penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia )


Marhaban yaa Ramadhan...

Menghidupkan malam Sya'ban, antara realita dan keshohihan

Sebagian kaum muslimin pada hari ini begitu banyak yang berlomba-lomba dalam kebaikan untuk menggapai keridhoan Allah -walhamdulillah-. Mereka melakukan amal-amal sholih yang berkaitan dengan hubungan sesamanya maupun dengan Sang Pencipta. Mereka menegakkan ibadah kepada Allah siang dan malam. Namun, sungguh amat disayangkan di antara amalan kaum muslimin ada yang tercampur dengan amalan-amalan yang tidak ada contohnya dari Rasul shalallahu 'alaihi wa sallam. Diantara amalan tersebut adalah qiyamul lail di malam nisyfis Sya'ban. Bagaimanakah sebenarnya ajaran islam dalam menegakkan ibadah di bulan ini? Marilah kita simak apa yang disampaikan para ulama berikut ini. Selamat menyimak ....

Pertanyaan :


Apakah melaksanakan qiyamullail di malam Ied dan malam Pertengahan dari bulan Sya'ban, apakah hukum menghidupkan kedua malam tersebut dengan qiyamul lail (sholat malam) ini wajib di dalam agama ataukah Bid'ah, Sunnah atau Mustahab?Karena saya mendapatkan sebuah hadith yang berisikan tentang keutamaan kedua macam qiyamullail tersebut yaitu hadits : ("Barangsiapa yang menghidupkan malam Ied dan malam pertengahan bulan Sya'ban (dengan qiyamullail-pent), tidak akan mati hatinya di hari dimana semua hati manusia akan mati")


Jawaban Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta (Dewan Tetap Arab saudi untuk riset-riset ilmiyah dan Fatwa) :

Qiyamullail di malam Ied dan malam pertengahan bulan Sya'ban tidak disyari'atkan, dan mengkhususkan kedua malam kedua malam tersebut bukanlah termasuk dalam Sunnah bahkan hal tersebut adalah Bid'ah. Dan hadits yang anda sebutkan ("Barangsiapa yang menghidupkan malam-malam Ied dan malam pertengahan bulan Sya'ban (dengan qiyamullail-pent), tidak akan mati hatinya di hari dimana semua hati manusia akan mati"), disebutkan oleh Imam As Suyuthi di dalam kitab Al Jami' Ash Shaghir dengan lafadz :("Barang siapa yang menghidupkan malam iedul fithri dan iedul adha tidak akan mati hatinya dihari dimana semua hati manusia akan mati") telah diriwayatkan oleh Imam Ath Thabraniy. Dan Imam As Suyuthi memberikan tanda bahwa hadith tersebut adalah dho'if.

Serta penulis kitab Faidhul Qadir menukilkan dari Imam Ibnu Hajar tentang hadits ini bahwa beliau berkata : hadits ini isnadnya mudhtharib (terdapat perselisihan didalam isnadnya antara perawi-perawinya dan tidak ada satu jalanpun yang dapat dinyatakan lebih kuat dari yang lain-pent) dan didalamnya terdapat seorang perawi yang bernama 'Umar Bin Harun, dia adalah seorang yang dho'if dan para perawi yang lain menyelisihinya dalam menyebutkan nama sahabat Nabi yang meriwayatkannya dan bahwa hadits tersebut adalah marfu' (disandarkan kepada Nabi) atau mauquf (disandarkan kepada seorang sahabat, karena sebagian dari para perawi hadits ini meriwayatkannya secara mauquf-pent).

Juga telah diriwayatkan oleh Al Hasan bin Sufyan dari riwayat 'Ubadah dan didalamnya terdapat perawi yang bernama Bisyr bin Rafi' dan dia adalah seorang yang tertuduh sering memalsukan hadits.

(Dikutip dari terjemahan fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Dewan Tetap Arab saudi untuk riset-riset ilmiyah dan fatwa, oleh Abu Abdillah Alee Masaid As Salafee)

Selasa, 04 Agustus 2009

What is Islaam?

What is Islaam?

The word "Islaam" is an Arabic word that means "submitting and surrendering your will to Almighty God". The word comes from the same root as the Arabic word "salam", which means peace. Unlike the names used for other religions, such as Buddhism, Hinduism and Christianity, the name for the religion of Islaam was both revealed by God and carries a deep spritual meaning - only by submitting one's will to Almighty God can one obtain true peace both in this life and in the life hereafter. Islaam teaches that all religions originally had the same essential message - which was to submit whole-heartedly to the will of God and to worship Him and Him alone. For this reason, Islaam is not a new religion but is the same divinely revealed Ultimate Truth that God revealed to all prophets, including Noah, Abraham, Moses and Jesus.

Who are Muslims?

Who are Muslims?

The Arabic word "Muslim" literally means "someone who submits to the will of God". The message of Islaam is meant for the entire world and anyone who accepts this message becomes a Muslim. Some people mistakenly believe that Islaam is just a religion for Arabs, but nothing could be further from the truth, since in actuality over 80% of the world's Muslims are not Arabs! Even though most Arabs are Muslims, there are Arabs who are Christians, Jews and atheists. If one just takes a look at the various peoples who live in the Muslim World - from Nigeria to Bosnia and from Morocco to Indonesia - it is easy enough to see that Muslims come from all different races, ethnic groups and nationalities. From the very beginning, Islaam had a universal message for all people. This can be seen in the fact that some of the early companions of the Prophet Muhammad were not only Arabs, but also Persians, Africans and Byzantine Romans. Being a Muslim entails complete acceptance and active obedience to the revealed will of Almighty God. A Muslim is a person who freely accepts to base his beliefs, values and faith on the will of Almighty God. In the past, even though you don't see it as much today, the word "Mohammedans" was often used as a label for Muslims. This label is a misnomer and is the result of either wilful distortion or sheer ignorance. One of the reasons for the misconception is that Europeans were taught for centuries that Muslims worshipped the Prophet Muhammad in the same way that Christians worship Jesus. This is absolutely not true since a Muslim is not permitted to worship anyone or anything besides Almighty God.

Who is Allaah?

Who is Allaah?

Very often one will here the Arabic word "Allaah" being used in regards to Islaam. The word "Allaah" is simply the Arabic word for Almighty God, and is the same word used by Arabic speaking Christians and Jews. If one were to pick up an Arabic translation of the Bible, one would see the word "Allaah" being use where the word "God" is used in English. Actually, the Arabic word for Almighty God, "Allaah", is quite similar to the word for God in other Semitic languages - for example, the Hebrew word for God is "Elah". For various reasons, some non-Muslims mistakenly believe that Muslims worship a different God than the God of Moses and Abraham and Jesus. This is certainly not the case, since the Pure Monotheism of Islaam calls all people to the worship of the God of Noah, Abraham, Moses, Jesus and all of the other prophets.

Who is Muhammad?

Who is Muhammad?

The last and final prophet that God sent to humanity was the Prophet Muhammad. Muhammad explained, interpreted and lived the teachings of Islaam.

The Prophet Muhammad is the greatest of all prophets for many reasons, but mainly because the results of his mission have brought more people into the pure belief in One God than any other prophet. Even though other religious communities claimed to believe in One God, over time they had corrupted their beliefs by taking their prophets and saints as intercessors with Almighty God. Some religions believe their prophets to be manifestations of God, "God Incarnate" or the "Son of God".

All of these false ideas lead to the creature being worshipped instead of the Creator, which contributed to the idolatrous practice of believing that Almighty God can be approached through intermediaries. In order to guard against these falsehoods, the Prophet Muhammad always emphasised that he was only a human-being tasked with the preaching of God's message. He taught Muslims to refer to him as "the Messenger of God and His Slave". To Muslims, Muhammad is the supreme example for all people - he was the exemplary prophet, statesman, military leader, ruler, teacher, neighbour, husband, father and friend. Unlike other prophets and messengers, the Prophet Muhammad lived in the full light of history. Muslims don't need to have "faith" that he existed and that his teachings are preserved - they know it to be a fact. Even when his followers only numbered a few dozen, Almighty God informed Muhammad that he had be sent as a mercy to all of mankind. Because people had distorted or forgotten God's messages, God took it upon Himself to protect the message revealed to Muhammad. This was because Almighty God promised not to send another messenger after him. Since all of God's messengers have preached the message of Islaam - i.e. submission to the will of God and the worship of God alone - Muhammad is actually the last prophet of Islaam, not the first.

What are the Teachings of Islaam?

What are the Teachings of Islaam?

The foundation of the Islaamic faith is belief in the Unity of God. This means to believe that there is only one Creator and Sustainer of everything in the Universe, and that nothing is divine or worthy of being worshipped except for Him. Truly believing in the Unity of God means much more than simply believing that there is "One God" - as opposed to two, three or four.

There are a number of religions that claim belief in "One God" and believe that ultimately there is only one Creator and Sustainer of the Universe. Islaam, however, not only insists on this, but also rejects using such words as "Lord" and "Saviour" for anyone besides Almighty God. Islaam also rejects the use of all intermediaries between God and Man, and insists that people approach God directly and reserve all worship for Him alone. Muslims believe that Almighty God is Compassionate, Loving and Merciful.

The essence of falsehood is the claim that God cannot deal with and forgive His creatures directly. By over-emphasising the burden of sin, as well as claiming that God cannot forgive you directly, false religions seek to get people to despair of the Mercy of God. Once they are convinced that they cannot approach God directly, people can be mislead into turning to false gods for help. These "false gods" can take various forms, such as saints, angels, or someone who is believed to be the "Son of God" or "God Incarnate".

In almost all cases, people who worship, pray to or seek help from a false god don't consider it to be, or call it, a "god". They claim belief in One Supreme God, but claim that they pray to and worship others beside God only to get closer to Him. In Islaam, there is a clear distinction between the Creator and the created. There is no ambiguity in divinity - anything that is created is not deserving of worship and only the Creator is worthy of being worshipped. Some religions falsely believe that God has become part of His creation, and this has led people to believe that they can worship something created in order to reach their Creator.

Powered By Blogger